Penciptaan al 'Arsy, Langit & Bumi, Lautan & Sungai-Sungai

PENCIPTAAN AL-’ARSY
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, ia berkata:
“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” [HR.Muslim 4797]
Beliau juga bersabda, “Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” [HR.Muslim 4797]
Mereka berkata, “Takdir ini adalah catatan-Nya dengan al-Qalam (pena) seluruh takdir.”
Hadits ini menunjukkan bahwa penetapan takdir itu ada setelah penciptaan al ‘Arsy. Maka tetaplah bahwa penciptaan al-’Arsy itu lebih dahulu dibanding penciptaan al Qalam yang dengannya segala takdir ditulis. Demikian pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama.
Adapun hadits al-Qalam dibawa kepada makna bahwa ia adalah makhluk yang pertama yang ada di alam ini. Wallahu Subhanahu wa Ta’ala A’lam.
Berikut syair ‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu (mengenai al-’Arsy):
“Aku bersaksi bahwa janji Allah adalah haq.
Bahwa neraka itu hunian orang-orang kafir.
Bahwa al-’Arsy itu berputar di atas air.
Dan di atas al-’Arsy Rabb semesta alam.
Dia diusung oleh para malaikat yang mulia.
Para malaikat Ilah yang memakai tanda.”
PENCIPTAAN LANGIT & BUMI
01 - Langit Bumi
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy….” (QS. Al-A’raf: 54)
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kadar (lamanya) enam masa yang ada pada ayat di atas dalam dua pendapat: Mayoritas mereka berpendapat bahwa enam masa itu kadamya sama dengan hari-hari yang kita jalani ini. Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan lainnya berpendapat bahwa masing-masing dari masa (hari) tersebut sebanding dengan seribu tahun hitungan kita.
PENCIPTAAN LAUTAN & SUNGAI-SUNGAI
03 - Sungai Eufrat
Sungai Eufrat
Para pakar astronom dan perbintangan memperbincangkan tentang berbilangnya lautan dan sungai-sungai besar, asal-usulnya, Sumber airnya, serta ke mana berakhimya aliran air tersebut dengan perbincangan yang di dalamnya mengandung hukum dan beragam petunjuk atas kekuasaan Allah Ta’ala.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat sungai yang (airnya) dipancarkan dari surga, yaitu: Eufrat, Nil, Saihan, dan jaihan.”[HR.Imam Ahmad dalam Musnadnya 7229]
Seolah-olah yang dimaksudkan dari hadits ini -wallahu a’lam- bahwa sungai-sungai tersebut serupa dengan sungai-sungai yang berada di surga dalam hal kejernihan, ketawaran, dan cara mengalimya.
Bersambung Insyaallah..
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah.

Kisah Idris 'Alaihis Salam

Idris adalah keturunan Adam yang pertama kali diberi kenabian setelah Adam dan Syits ‘alaihimassalam. Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa dia adalah manusia yang pertama kali menulis dengan pena.
Dari Hilal bin Yasaf, ia berkata, “Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka’ab –dan saat itu aku hadir di tengah-tengah mereka- Ibnu ‘Abbas bertanya, ‘Apa (makna) firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Idris: ‘Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’ (QS. Maryam: 57). Ka’ab menjawab, ‘Adapun Idris, maka sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadanya,’Sesungguhnya Aku akan mengangkat amal-amalmu setiap hari seperti semua amalan keturunan Adam’- boleh jadi yang dimaksudkan adalah orang-orang yang ada di zamannya- maka Idris pun suka menambah amalannya.”
Suatu ketika kekasih Idris dari kalangan malaikat mendatanginya, lalu Idris berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku begini dan begitu. Maka berbicaralah kepada Malaikat Maut agar ia sudi menangguhkan kematianku hingga aku dapat menambah amal (kebaikan)ku.” Maka malaikat tersebut membawa Idris dan meletakkannya di antara dua sayapnya, kemudian naik ke langit. Ketika berada di langit yang keempat, ia bertemu dengan Malaikat Maut yang sedang bersandar. Malaikat yang membawa Idris tersebut berbicara kepada Malaikat Maut menyampaikan pesan yang dipesankan Idris kepadanya. Lalu Malaikat Maut berkata, ‘Dimana Idris?’ Malaikat tersebut menjawab, ‘Ini dia di atas punggungku.’ Malaikat Maut berkata, ‘Sungguh mengherankan! Aku diutus dan dikatakan kepadaku, ‘Cabutlah ruh Idris di langit keempat.’ Sebelumnya aku berkata, ‘Bagaimana mungkin aku mencabut ruh Idris di langit keempat sedangkan ia berada di bumi?’ Malaikat Maut pun mencabut ruhnya di sana (di langit keempat).”
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah.

Kisah Dua Anak Adam, Qabil & Habil

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan lainnya bahwa Adam berkehendak menikahkan setiap anak laki-lakinya dengan saudara perempuannya dari kembaran yang lain. Maka Habil hendak menikah dengan saudari perempuannya Qabil. Saat itu Qabil lebih tua dari Habil, dan saudari perempuan Qabil lebih cantik. Maka Qabil hendak menjadikannya istri untuk dirinya sendiri daripada diberikan kepada saudaranya, Habil. Adam memerintahkan Qabil untuk menikahkan Habil dengan saudari perempuannya itu, namun ia menolak. Adam pun memerintahkan keduanya untuk berkurban.
Habil berkurban dengan seekor kambing yang gemuk dan saat itu Habil memiliki kambing yang sangat banyak. Adapun Qabil berkurban dengan hasil pertanian yang jelek. Api pun turun lantas melahap kurban Habil dan membiarkan kurban Qabil. Qabil pun marah dan berkata, “Sungguh, aku akan membunuhmu sehingga engkau tidak dapat menikahi saudari perempuanku.”
Habil menjawab, “Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.” Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan lainnya, “Demi Allah, sekalipun yang terbunuh itu (yakni Habil) lebih kuat (dari Qabil). Akan tetapi, dosa yang telah menghalanginya untuk menggerakkan tangannya kepadanya (membunuh Qabil).”[1]
Sebagian ulama menceritakan bahwa setelah Qabil membunuh Habil, ia pun memanggulnya. Dan itu terus ia lakukan hingga Allah mengirim dua ekor burung gagak. Kedua burung gagak itu bertarung, lalu salah satunya berhasil membunuh yang lainnya. Setelah membunuhnya, ia turun ke bumi, menggali tanah, lalu mencampakkan (bangkainya), mengubur, serta menimbunnya.
06 - Burung Gagak
Ketika Qabil menyaksikan apa yang diperbuat oleh burung gagak itu, maka ia pun berkata, “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” (QS. AI-Maidah: 31).
Lantas ia pun melakukan seperti apa yang dilakukan oleh burung gagak itu, menggali tanah dan menguburkannya.
Foot Note:
[1] Aku katakan: “Di daerah Barhalayya, di sebelah barat laut Damaskus dekat Sungai Barada terdapat sebuah gua yang biasa disebut dengan maghåratuddam (Gua Darah). Tempat inilah yang dikenal sebagai tempat Qabil membunuh saudaranya Habil. Wallahu a’lam atas kebenarannya.”
07 - Barada River
Sungai Barada, Suriah
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah.

Kisah Hud 'Alaihis Salam


18 - Kaum 'AdKaum Hud adalah bangsa Arab yang mendiami al-ahqaf, yaitu bukit-bukit pasir yang terdapat di wilayah Yaman antara Oman dan Hadhramaut. Al-ahqaftersebut memanjang di sepanjang laut yang bernama Laut asy-Syahar. Umumnya mereka tinggal di kemah-kemah yang bertiang besar. Mereka adalah kaum ‘Ad yang pertama. Barangsiapa yang menyangka bahwa Iram adalah kota yang berpindah-pindah di muka bumi terkadang di Syam, terkadang di Yaman, terkadang di Hijaz, dan terkadang di lainnya, maka pendapat ini jauh dari kebenaran serta pendapat yang tidak berdasarkan pada dalil.
Disebutkan dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, dari Abu Dzarr –dalam haditsnya yang sangat panjang tentang para Rasul dan Nabi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara mereka ada empat Nabi yang berasal dari bangsa Arab, yaitu: Hud, Shalih, Syu’aib, dan Nabimu, wahai Abu Dzarr.”
Yang dimaksud dengan “kaum ‘Ad pertama” adalah mereka yang pertama kali menyembah patung setelah terjadinya badai taufan (zaman Nuh). Allah Ta’ala mengutus Hud ‘alaihissalam, –saudara mereka– di tengah-tengah mereka untuk mengajak mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kaum ‘Ad adalah bangsa Arab yang kafir lagi ingkar yang terjerumus menjadi penyembah berhala. Lalu Allah Ta’ala mengutus Hud ‘alaihissalam kepada mereka, namun mereka malah mendustakannya. Sehingga Allah –Dzat yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa– menimpakan adzab kepada mereka.
Awal mula adzab datang kepada mereka adalah dengan adanya masa paceklik dan kekeringan yang melanda mereka. Kemudian, mereka meminta hujan. Lantas mereka melihat ada gumpalan awan di langit dan menyangkanya sebagai hujan yang membawa rahmat. Namun, ternyata itu adalah hujan yang mengandung adzab, dan angin datang seperti anak panah yang terbuat dari api.
Allah ta’ala berfirman: “Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus” (QS. Al-Haqqah: 7).
Tidak ada satu pun dari kaum ‘Ad yang tertimpa angin itu, melainkan ia pasti binasa.
Adapun Hud ‘alaihis salam beserta orang yang bersamanya dari kalangan orang-orang yang beriman menyingkir ke sebuah tempat (tembok). Angin yang mengenai mereka hanya melunakkan kulit-kulit mereka dan menyenangkan hati-hati mereka.
Angin tersebut melintas di tengah-tengah kaum ‘Ad dengan berhembus sangat kuat di antara langit dan bumi sekaligus menghujani kepala mereka dengan bebatuan.
Allah berfirman: “Maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haqqah: 7)
Allah menyerupakan mereka dengan pohon kurma yang telah lapuk yang tidak berkepala. Hal itu karena angin yang datang kepada salah seorang di antara mereka membawanya dan menerbangkannya ke udara lantas melemparkannya dalam posisi kepala di bawah sehingga ia menjadi mayat yang tak berkepala.
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah menyebutkan sifat kubur Hud ‘alaihissalam yang terletak di negeri Yaman. Sementara yang lainnya menyebutkan bahwa ia berada di wilayah Dimasyqi (Damaskus) dan di masjid jami’-nya terdapat satu tempat di tembok bagian depan, yang menurut sangkaan sebagian orang itulah kubur Hud ‘alaihissalam. Wallahu a’lam.
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah
PENINGGALAN KOTA IRAM
Berdasarkan foto yang diambil dari pesawat ulang alik terlihat tempat dimana jejak-jejak kafilah  bertemu dan mengarah ke Ubar (Iram) [lihat tanda panah].20 - Ubar, hanya dapat dilihat dari luar angkasa sebelum dilakukan pengalian.
22 - Temuan Arkeologis Kota Iram
 1. Ubar hanya dapat dilihat dari luar angkasa sebelum dilakukan penggalian.
2. Kota yang berada 12 m dibawah pasir nampak setelah dilakukan penggalian.
19 - Kota yang berada 12 meter dibawah pasir nampak setelah dilakukan penggalian.
12 - Kota Iram
11 - Kota Iram
15 - Kota Iram
13 - Kota Iram
14 - Kota Iram
Banyak karya seni dan monumen ari sebuah peradaban yang tinggi yang didirikan di Ubar (Iram) sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an. Foto-foto diatas adalah salah satu peninggalan kota Iram yang tersisa.
  16 - Kota Iram
Ilustrasi Kota Iram    

Kisah Shalih 'Alaihis Salam

01 - Tsamud
Tempat tinggal kaumTsamud terbuat dari batu yang dipahat kedalam tebing di Madain Shaleh

Nabi Shalih ‘alaihissalam  diutus kepada satu kabilah masyhur, yang disebut kabilah Tsamud. Kabilah Tsamud tergolong bangsa Arab al-’Aribah yang tinggal di daerah bebatuan antara Hijaz dan Tabuk. Mereka adalah kabilah yang datang setelah kaum ‘Ad dan menyembah berhala. Lalu Allah ta’ala mengutus kepada mereka seorang nabi dari kalangan mereka, yaitu hamba Allah dan Rasul-Nya yang bernama Shalih. Ia menyeru mereka untuk menyembah Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Menyeru untuk menanggalkan berhala-berhala dan tandingan-tandingan Allah serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Maka di antara mereka ada yang beriman, namun mayoritasnya kafir. Mereka menyakiti Nabi Shalih ‘alaihissalam dengan perkataan dan perbuatan, bahkan mereka berniat membunuhnya dan membunuh unta yang dijadikan oleh Allah ta’ala sebagai hujjah kepada mereka.
Para ahli tafsir menyebutkan, pada suatu hari kaum Tsamud berkumpul di tempat perkumpulan mereka. Lalu Rasulullah Shalih ‘alahissalam datang menghampiri mereka, lantas menyeru mereka kepada Allah ta’ala, memperingati, mengingatkan, serta menasehati mereka. Mereka berkata kepada Shalih, “Sanggupkah engkau mengeluarkan untuk kami seekor unta betina dari batu ini- seraya menunjukkan sebongkah batu- dengan ciri-ciri seperti ini dan seperti itu?” Kemudian mereka menyebutkan ciri-ciri unta yang mereka inginkan, di samping itu unta tersebut mesti dalam keadaan bunting (sepuluh bulan) lagi berbadan panjang. Nabi Shalih ‘alaihissalam menjawab, “Beritahukan kepadaku, jika aku sanggup memenuhi permintaan kalian sesuai dengan yang kalian inginkan, apakah kalian akan beriman dengan apa yang aku bawa dan membenarkan apa-apa yang dengannya aku diutus?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi Shalih ‘alaihissalam pun mengambil sumpah dan janji mereka atas hal itu, lalu ia beranjak menuju tempat shalatnya dan shalat di sana dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla sesuai dengan apa yang telah ditetapkan baginya, kemudian berdoa kepada Rabb-Nya agar Dia mengabulkan permintaan mereka. Maka Allah ta’ala memerintahkan batu besar tersebut untuk terbelah dan mengeluarkan seekor unta betina yang besar lagi bunting, sesuai dengan permintaan mereka.
Tatkala mereka melihatnya, mereka menyaksikan perkara yang agung, pemandangan yang mengagumkan, kemampuan yang luar biasa, bukti yang nyata, dan penjelasan yang terang. Maka banyak dari mereka yang beriman, namun lebih banyak lagi yang tetap dalam kekafiran, kesesatan, dan pembangkangannya.
Mereka bersepakat membiarkan unta betina tersebut tinggal di tengah-tengah mereka, membiarkannya merumput di tanah mana pun yang ia kehendaki dari lahan milik mereka, serta membiarkannya minum hari demi hari. Ada yang mengatakan bahwa mereka meminum susu unta tersebut sampai mencukupi mereka.
Setelah kondisi ini berlangsung lama, maka pembesar mereka mengadakan perkumpulan dan bersepakat untuk menyembelih unta betina tersebut. Adapun yang bertindak sebagai pembunuh unta tersebut adalah pemimpin mereka yang bernama Qudar bin Salif. Ia seorang laki-laki yang berkulit merah kebiru-biruan, dan berbadan pendek. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah hasil anak zina dari seorang laki-laki yang bernama Shaiban. Perbuatannya itu berdasarkan atas kesepakatan mereka bersama.
Mereka pun pergi mengawasi unta betina tersebut, seolah-olah ia seperti orang yang memiliki kemampuan berpidato. Lalu Qudar membidikkan anak panahnya hingga tepat mengenai tulang betis unta tersebut. Dengan segera Qudar bin Salif mendatanginya dan menghunuskan pedangnya ke arahnya. Ia berhasil memutuskan urat ketingnya (urat di atas tumit) sehingga unta tersebut jatuh tersungkur di atas tanah. Unta tersebut bersuara keras memperingatkan anaknya. Kemudian, Qudar melukai leher unta betina tersebut dan menyembelihnya, sedangkan anak unta tersebut berlari menaiki gunung dan bersuara tiga kali.
Atas perbuatan itu, Nabi Shalih ‘alaihissalam berkata kepada mereka: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari.” (QS. Hud: 65) Namun, mereka juga tidak mempercayai ancaman serius tersebut. Bahkan di sore harinya mereka berniat membunuhnya, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan bebatuan atas mereka yang hendak membunuh Shalih yang membinasakan mereka sebelum dihancurkannya seluruh kaumnya. Pada hari Kamis pagi -hari pertama penantian turunnya adzab-, wajah-wajah kaum Tsamud berubah menjadi kekuning-kuningan. Dan di saat sore harinya mereka semua menyeru, “Telah berlalu satu hari dari betas waktunya.”
Kemudian pada hari kedua -yaitu hari jum’at- wajah mereka berubah menjadi kemerah-merahan. Dan pada hari yang ketiga -yaitu hari Sabtu- berubah menjadi kehitam-hitaman. Di hari Ahad Shubuh mereka bersiap-siap, menuai datangnya adzab. Dan ketika matahari terbit, terdengarlah oleh mereka suara pekikan dari langit serta gempa dari arch bawah mereka sehingga nyawa-nyawa mereka pun melayang.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang bersama beliau singgah di Tabuk, beliau menyinggahkan mereka di Hijr bekas perumahan kaum Tsamud. Lalu orang-orang pun mengambil air dari sumur-sumur yang dahulunya dijadikan tempat minum oleh kaum Tsamud. Sebagian dari air tersebut mereka gunakan untuk adonan roti dan sebagiannya lagi dipanaskan diperiuk-periuk untuk memasak daging. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka membuang air yang terdapat di periuk-periuk tersebut dan adonannya diberikan kepada unta. Kemudian, Rasulullah membawa mereka hingga sampai di sumur tempat unta Nabi Shalih pernah minum darinya. Dan beliau melarang mereka untuk masuk ke daerah kaum yang telah diadzab, seraya bersabda, “Sesungguhnya aku khawatir kalian akan tertimpa seperti apa yang pernah menimpa mereka, maka janganlah kalian masuk ke tempat mereka.” Dan pada sebagian riwayat disebutkan, “Kecuali jika kalian dalam kondisi menangis.” Dan dalam satu riwayat, “jika kalian tidak mampu menangis, maka berpura-puralah menangis.” [HR.Imam Ahmad, 5712]
Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada beliau.
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah
PENINGGALAN KAUM TSAMUD
At-Taubah:070
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, `Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?
Sumber: Dari berbagai sumber

Kisah Ibrahim al Khalil 'Alaihissalam

la adalah Ibrahim bin Azar ‘alaihis, beliau dijuluki dengan gelar Abu adh-Dhaifan. Menurut pendapat yang shahih, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dilahirkan di Babil. Semua penghuni bumi pada saat itu ada di dalam kekafiran, kecuali Ibrahim al-Khalil, Sarrah (istrinya), dan keponakannya Luth ‘alaihissalam.
Ibnu Jarir berkata, “Pendapat yang benar bahwa nama bapaknya adalah Azar [1] . Boleh jadi ia memiliki dua nama atau salah satu adalah gelarnya dan yang lain adalah nama aslinya. Wallahu a’lam.”
Allah ta’ala telah menyebutkan dialog dan perdebatan yang terjadi antara Ibrahim dan bapaknya serta bagaimana ia menyeru bapaknya kepada kebenaran dengan ungkapan yang lemah lembut dan isyarat yang lebih baik. Ibrahim menjelaskan kepada bapaknya mengenai kebatilan peribadatan yang ia lakukan berupa penyembahan terhadap berhala-berhala yang tidak mampu mendengar permohonan penyembahnya dan tidak mampu pula melihat tempat orang yang
menyembahnya, lalu bagaimana ia bisa memberi sesuatu kepadanya berupa rezeki dan pertolongan? Tetapi, bapaknya justru menakuti-nakuti dan mengancamnya.
Di antara nasehat Ibrahim kepada penduduk Harran yang menyembah bintang-bintang adalah ia menjelaskan kepada mereka bahwa benda-benda langit yang terlihat di atas itu berupa bintang-bintang gemerlapan tidak pantas dipertuhankan dan tidak berhak untuk disekutukan dengan Allah. Sebab, bintang-bintang tersebut adalah makhluk, yang ia terkadang terbit dan terkadang tenggelam, lalu hilang dari alam ini. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan pemah hilang dari alam dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya. Bahkan Dia kekal abadi dan tidak pernah hilang.
Ibrahim ‘alaihissalam mengingkari perbuatan kaumnya yang menyembah berhala-berhala; dia menghinakannya serta merendahkannya. Para penyembah berhala-berhala tersebut tidak memiliki hujjah melainkan hanya mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Tatkala mereka keluar menghadiri perayaan mereka, maka dengan cepat dan diam-diam Ibrahim mendatangi patung-patung mereka, lantas menghancurkannya, lalu meletakkan kapak (yang ia pakai untuk menghancurkan tadi) di leher patung yang paling besar sebagai satu isyarat bahwa ia cemburu bila patung-patung yang lebih kecil ikut disembah bersamanya. Saat orang-orang kembali dari perayaan mereka dan mendapatkan apa yang menimpa tuhan-tuhan mereka, mereka bertanya dengan nada pengingkaran terhadap orang yang melakukan perbuatan itu kepada tuhan-tuhan mereka. Lalu mereka mengatakan bahwa mereka pernah mendengar ada seorang pemuda yang bernama Ibrahim yang biasa mencela tuhan-tuhan mereka. “Mereka berkata: ‘(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan.”‘ (QS. Al-Anbiya’: 61) Yaitu, di hadapan orang-orang banyak yang menyaksikannya agar mereka menyaksikan perkataannya dan mendengarkan ucapannya.
Kejadian ini merupakan harapan terbesar Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam, yaitu berkumpulnya seluruh manusia, lalu ia menegakkan hujjah di hadapan semua para penyembah berhala tersebut atas kebatilan perbuatan mereka, sebagaimana yang diungkapkan oleh Musa ‘alaihissalam kepada Fir’aun: “Berkata Musa, ‘Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.”‘ (QS. Thaha: 95).
Ketika orang-orang telah berkumpul dan telah menghadirkan Ibrahim, mereka berkata, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya: 62-63).
Yang dimaksudkan Ibrahim terhadap ucapannya ini tidak lain adalah agar mereka segera menjawab bahwa berhala-berhala tersebut tidak mampu berbicara, sehingga mereka mengakui bahwa berhala-berhala tersebut adalah benda mati sebagaimana benda mati lainnya. Lalu mereka kembali kepada jiwa mereka dengan mencela diri. Mereka bingung serta kehabisan hujjah dan tidak ada lagi yang tersisa melainkan menggunakan kekuatan. Mereka pun segera mengumpulkan kayu bakar, kemudian mereka kumpulkan di sebuah parit yang sangat besar dan menyalakannya. Api tersebut berkobar-kobar sangat tinggi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kemudian mereka meletakkan Ibrahim ‘alaihissalam di piringan manjaniq (alat pelempar semacam meriam) yang dibuat oleh seseorang yang berasal dari Akrad yang bernama Haizan. Dialah orang yang pertama kali membuat manjaniq, Allah pun menenggelamkannya ke dalam bumi. Ketika Ibrahim ‘alaihissalam diletakkan di piringan manjaniq posisinya ada dalam keadaan terikat, kemudian mereka melemparnya ke api. Saat itu Ibrahim berkata, “Hasbunallaah wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah sebagai pelindung kami. Dan Allah adalah sebaik-baik pelindung).”
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya ia berkata, “Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” Dzikir ini diucapkan oleh Ibrahim saat ia dilempar ke dalam api. Dan diucapkan oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamketika dikatakan kepadanya:
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kami, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa. “‘ (QS. Ali lmran: 173-174).
Allah ta’ala berfirman: “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’: 69). Maka tidak ada sesuatu pun yang terbakar dari Ibrahim selain tali pengikatnya saja.
Dari Ummu Syuraik bahwa Rasulullah pernah memerintahkan membunuh tokek/cicak dan bersabda, “Dahulu ia meniup (api yang membakar) lbrahim.”[2]
Kemudian Allah menyebutkan perdebatan kekasih-Nya dengan seorang raja tiran lagi kafir yang mengaku dirinya sebagai tuhan. Lalu Ibrahim ‘alaihissalam berhasil mementahkan hujjah sang raja. Raja tersebut adalah raja Babilonia. Namanya adalah Namrud bin Kusy bin Sam bin Nuh. “Ibrahim berkata, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.”‘ (QS. Al-Baqarah: 258). Raja bodoh ini berkata, “Aku juga dapat menghidupkan dan mematikan.” Dan para rasul telah diberi hujjah (dalam menghadapi hal itu):
“Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu terdiam heranlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim. (QS. Al-Baqarah: 258)
Setelah kejadian tersebut, Ibrahim ‘alaihissalam hijrah ke Mesir, kemudian kembali dengan ditemani oleh Hajar wanita Qibthi Mesir.
Adapun Luth ‘alaihissalam, ia singgah di kota Sodom berdasarkan perintah Ibrahim. Penduduk Sodom adalah orang-orang yang berlaku buruk, kafir, lagi fajir.
Kemudian Hajar melahirkan tiga belas tahun sebelum kelahiran Ishaq. Tatkala Isma’il lahir, Allah ta’ala mewahyukan kepada Ibrahim berupa kabar gembira akan lahirnya Ishaq dari kandungan Sarah. Setelah kelahiran Isma’il dari Hajar, memuncaklah kecemburuan Sarah. Sarah meminta kepada Ibrahim agar ia menjauhkan Hajar darinya. Maka Ibrahim pergi membawa Hajar dan Isma’il hingga sampai ke suatu tempat yang bernama Makkah. Ketika itu Makkah tidak didiami oleh seorang pun dan juga tidak ada air di sana. Ibrahim hanya meletakkan sebuah kantong yang berisi kurma dan kantong kulit berisi air di sisi keduanya. Kemudian Ibrahim meninggalkan tempat tersebut. Ketika air yang di kantong mulai habis, Hajar pun kehausan. Demikian halnya dengan anaknya ia menggelepar-gelepar (karena kehausan). Hajar pun berbolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah demi untuk mendapatkan air. Ia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali dan ia tidak melihat seorang pun. Kemudian ia mendengar suara. Ternyata suara itu datangnya dari malaikat yang tengah berada di dekat Zam-zam. Malaikat tersebut mengais-ngaiskan sayapnya hingga muncul air. Lalu Hajar pun membendung air tersebut.
26 Zamzam
Air Zamzam
28 sai
Ibnu ‘Abbas berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Semoga Allah merahmati ibu Isma’il. Jika saja ia membiarkan air Zam-zam itu, niscaya ia menjadi mata air yang mengalir.”‘ [3] Akan tetapi Hajar membendung air tersebut dengan kedua tangannya, disebabkan rasa semangat yang dimilikinya. Maka ia pun meminum air itu dan menyusui anaknya. (Kondisi ini terus berlangsung) hingga sebuah keluarga dari kalangan Jurhum melewati mereka. Lantas mereka pun singgah di sekitar air tersebut dan mengirim utusan kepada keluarga mereka agar mereka ikut datang dan menetap di sana bersama mereka. Sang bayi pun (Isma’il) tumbuh besar dan belajar bahasa Arab dari mereka. Setelah dewasa mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah itu ibu Isma’il meninggal dunia. Kemudian Ibrahim datang dan berkata, “Wahai Isma’il, sesungguhnya Allah memerintahku untuk membangun sebuah rumah di sini.” Saat itulah mereka berdua meninggikan pondasi Baitullah.
23 Kabah
Ilustrasi Ka’bah
24 Maqom Ibrahim25 Maqom Ibrahim
Maqom Ibrahim
Adapun kisah penyembelihan, maka tidak ada perbedaan di kalangan para ulama al-milal wa an-nihal (pakar sejarah keagamaan) bahwa yang disembelih adalah Ismail ‘alaihissalam, putra dan anak remaja pertamanya “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim.” (QS. Ash-Shaffat: 102) Yakni telah mencapai umur remaja dan bekerja untuk kemaslahatan dirinya seperti halnya bapaknya. Pada saat itulah Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi bahwa ia diperintahkan menyembelih anaknya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas secara marfu’, “Mimpinya para Nabi adalah wahyu.” Maka Ibrahim pun mengutarakan hal itu kepada putranya “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102) Maka dengan bersegera putra yang santun itu memenuhi keinginan bapaknya, al-Khalil Ibrahim dan berkata, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diberitahukan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102).
Jawaban ini merupakan puncak ketenangan dan ketaatan serta ia berazam atas hal itu. Ibrahim pun menorehkan pisaunya di atas tenggorokan putranya, namun pisau tersebut sedikit pun tidak dapat memotongnya. Di saat seperti itu ia diseru oleh Allah ‘azza wa alla “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu …… (QS. Ash-Shaffat 104-105). Yaitu tercapai maksud dari ujian, ketaatan, dan kesegeraanmu pada perintah Tuhan-Mu: “Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107) Yang masyhur dari mayoritas ulama bahwa tebusan itu adalah domba putih, ada warna hitam di sekitar matanya, dan bertanduk.
Kemudian, Ibrahim dikaruniai seorang putra bernama Ishaq, setelah Ishaq disusul dengan Ya’kub ‘alaihimussalam.
Foot Note:
[1] Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa nama bapaknya adalah Tarih –pentj-
[2]    HR. AI-Bukhari dalam Shahihnya (3109), Imam Ahmad dalam Musnadnya (24463).
[3] HR. AI-Bukhari (2195) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (3217)
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah.

Kisah Luth 'Alaihis Salam

Atas dasar perintah Ibrahim, Nabi Luth ‘alaihissalam tinggal jauh dari tempat tinggal pamannya, Ibrahim. Luth menetap di kota Sodom. Kota Sodom dihuni oleh orang-orang fajir, kafir, serta perampok. Mereka melakukan kemungkaran di tempat-tempat perkumpulan mereka serta tidak mau mencegah kemungkaran yang mereka lakukan, yaitu kemungkaran homoseksual dan meninggalkan para wanita yang diciptakan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang shalih. Luth menyeru mereka untuk menyembah Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Luth melarang mereka untuk melakukan perbuatan Karam, keji, dan munkar. Namun mereka tetap dalam kesesatan dan melampaui batas. Bahkan mereka bermaksud mengusir Rasul mereka dari tengah-tengah mereka. Walhasil, jawaban mereka adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Mereka berkata: ‘Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu, karena sesungguhnya mereka itu orango-rang yang (mendakwakan dirinya) bersih.”‘ (QS. An-Naml: 56) Mereka memposisikan sesuatu yang amat terpuji pada posisi tercela, dan dijadikan alasan untuk mengusir Luth.
Para ahli tafsir berkata, “Setelah para malaikat, yaitu Jibril, Mikail, dan Israfil meninggalkan Ibrahim ‘alaihissalam lalu mereka mendatangi negeri Sodom dalam rupa pemuda yang sangat tampan. Mereka datang bertamu ke rumah Luth ‘alaihissalam pada saat matahari tenggelam. Luth merasa khawatir. Sebab, jika ia tidak menyambut mereka, maka mereka akan disambut oleh yang lainnya dari kalangan orang-orang fasik, karena Luth menyangka bahwa mereka adalah manusia biasa. Lalu, Luth pun membawa mereka tanpa diketahui oleh seorang pun, kecuali keluarganya. Lalu istri Lutth keluar, lantas mengabarkan hal itu kepada kaumnya. Maka kaumnya berbondong-bondong mendatangi Luth, dan Luth pun menjawab: “Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri) ku mereka lebih suci bagimu.” (QS. Had: 78) Luth mengarahkan mereka untuk mendatangi istri-istri mereka, yang secara syariat merupakan putri-putri Luth. Karena, kedudukan seorang Nabi bagi umatnya ada pada kedudukan seorang ayah bagi anak-anaknya. Pada waktu itu Luth amat berharap sekiranya ia memiliki kekuatan atau pembela atau anggota keluarga yang menolongnya atas perbuatan kaumnya. Luth berusaha menghalau kaumnya agar mereka tidak memasuki rumahnya. Luth menghalau mereka dari balik pintu yang tertutup sedang mereka berusaha untuk membukanya. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa Jibril keluar menemui mereka. Lalu memukulkan ujung sayapnya ke arah wajah mereka sehingga menjadikan mata mereka buta. Kemudian, Jibril memerintahkan Luth beserta anggota keluarganya, kecuali istrinya untuk pergi meninggalkan kampungnya di akhir malam.
As-Suhaili berkata, “Nama istri Luth adalah Walihah, sedangkan nama istri Nuh adalah Walighah. Ketika Luth ‘alaihissalam keluar dari kampungnya ia hanya bersama keluarganya, yaitu kedua anak perempuannya dan tidak ada orang lain yang mengikutinya. Tatkala mereka telah meninggalkan negeri mereka dan matahari mulai terbit, Allah pun menimpakan adzab kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang lalim.” (QS. Hud: 82-83)
28 Sodom GomorrahIlustrasi
Para ahli tafsir berkata, “Jibril memporak-porandakan tempat tinggal mereka berikut dengan penghuninya dengan ujung sayapnya. Dan jumlah kota saat itu ada tujuh kota.”
Tempat tinggal mereka berubah menjadi lautan bangkai yang bergelombang, sedang airnya amat teramat asin sampai dekat ke pahit. Ada yang mengatakan bahwa istri Luth ‘alaihissalam adalah mata-mata atas keberadaan tamu-tamu Luth. Ibnu ‘Abbas dan lainnya dari kalangan para imam salaf dan khalaf, “Istri seorang nabi tidak akan pernah berbuat zina, dan bukanlah yang dimaksud (dalam ayat) bahwa ia mendatangi perbuatan keji (zina), sekali-kali tidak. Tetapi yang dimaksud adalah ia mengkhianati Luth dalam urusan agama, dimana ia tidak mau mengikutinya.”
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah.

Kisah Kaum Madyan, Kaum Nabi Syu'aib 'Alaihis Salam

Penduduk Madyan adalah satu kaum Arab yang tinggal di kota bernama Madyan. Kota tersebut terletak di daerah Ma’an di ujung daerah Syam di samping tepian kota Hijaz dekat dengan laut tempat ditenggelamkannya kaum Luth. Mereka berasal dari keturunan Bani Madyan bin Madyan bin Ibrahim al-Khalil
Penduduk Madyan adalah orang-orang kafir. Kebiasaan mereka adalah merampok dan menakut-nakuti orang-orang yang lewat di jalanan. Mereka adalah seburuk-buruk manusia dalam bertransaksi, mereka curang dalam takaran dan timbangan. Mereka meminta tambahan di saat membeli dan mengurangi takaran/timbangan saat menjual. Lalu Allah mengutus seorang laki-laki dari kalangan mereka, yaitu Rasulullah Syu’aib ‘alaihissalam. Syu’aib menyeru mereka untuk menyembah hanya kepada Allah, tiada menyekutukan-Nya dan melarang mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk tersebut.
Sebagian dari mereka beriman kepadanya, namun kebanyakan mereka yang kafir. Syu’aib menasehati serta mengingatkan mereka tentang apa yang telah menimpa kaum Luth; mereka adalah kaum yang begitu dekat dengan mereka, baik dari sisi tempat maupun waktu. Namun mereka tidak menyambut seruan itu hingga akhirnya Syu’aib mendoakan keburukan untuk mereka, sedang Allah tidak akan menolak doa para Rasul-Nya jika mereka meminta pertolongan atas orang-orang kafir. Mereka pun ditimpa gempa yang begitu dasyhat, suara keras yang mengguntur, serta gumpalan awan. Allah menghujani mereka dengan percikan api dan anak panah api, mereka pun binasa.
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah.

Kisah Yusuf 'Alaihis Salam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang mulia putra orang yang mulia dari putra orang yang mulia, Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin lbrahim.”[1]
Para ahli tafsir dan lainnya berkata, “Yusuf sewaktu kecilnya pernah bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan seolah-olah bersujud kepadanya. Setelah bangun dari tidurnya, ia pun menceritakan mimpi tersebut kepada bapaknya. Dan sang bapak menyuruhnya untuk merahasiakan mimpi tersebut serta tidak menceritakannya kepada saudara-saudaranya yang lain agar mereka tidak hasad (dengki) kepadanya.
Saudara-saudara Yusuf lantas bermusyawarah guna membunuh Yusuf atau membuangnya jauh ke suatu daerah yang ia tidak akan kembali lagi, dan mereka sepakat atas keputusan terakhir ini.
Mereka terus memohon kepada sang bapak agar Yusuf dibiarkan pergi bersama mereka hingga kemudian bapaknya mengizinkannya pergi bersama mereka. Setelah mereka sudah tidak tampak dari pandangan sang bapak, mereka pun melemparkan Yusuf ke dasar sumur, namun Allah Ta’ala menenangkan hatinya.
Saudara-saudara Yusuf kembali pulang menemui bapak mereka di malam hari seraya menangisi kematian saudara mereka Yasuf –menurut sangkaan mereka- dengan membawa pakaiannya yang telah dilumuri dengan darah anak kambing. Sang bapak pun menyerahkan urusannya kepada Allah dan bersabar dengan kesabaran yang amat baik.
Lalu, datanglah sekelompok kafilah sedang saudara-saudara Yusuf senantiasa mengawasi sumur tersebut. Ketika Yusuf ‘alaihissalam diambil oleh kafilah tersebut, maka saudara-saudara Yasuf segera mendatangi mereka dan berkata, “Ini adalah budak kami yang melarikan diri dari kami.” Lalu mereka membelinya dari mereka dengan harga dua puluh dirham, lalu saudara-saudara Yasuf saling berbagi dua dirham dua dirham. Kemudian Yusuf dibeli oleh seorang penduduk Mesir yang terpandang, lalu ia berlaku baik kepadanya. “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuff ” (QS. Yusuf: 23) Istri al-Azis (Zulaikha) mengajak Yasuf untuk berbuat tidak senonoh dengannya dan ia sangat berharap bisa mewujudkan hal itu, lalu Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah.” Dan Allah menjaga NabiNya Yusuf ‘alaihissalam, membersihkannya dari perbuatan keji, melindungi, serta membentenginya darinya.
Yusuf kemudian lari, namun Zulaikha mengejarnya. Di pintu rumah mereka berdua saling tarik-menarik. Di saat demikian, tiba-tiba saja al-Aziz berada di hadapan keduanya. Istri al-Aziz adalah wanita cerdas, maka ia segera angkat bicara untuk membebaskan dirinya dari perbuatan yang tidak senonoh. Dan di saat yang sama, ia juga mengkhawatirkan posisi Yusuf, jika sampai divonis mati. Untuk -menghindari itu, ia mengusulkm agar Yasuf cukup di penjara atau disiksa saja. Yusuf pun membela dirinya, dengan mengembalikan tuduhan itu seraya berkata, “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku  (kepadanya).” (QS. Yusuf: 26)
Lalu masuklah seorang saksi dan berkata, “Apabila baju gamis Yusuf koyak di bagian dadanya atau koyak di bagian depannya, maka wanita itu benar. Dan jika baju gamis Yusuf koyak di bagian punggungnya (belakang), si wanita itu mengejarnya ketika ia lari serta menarik baju gamisnya hingga terkoyak. Dengan demikian dialah (si wanita) yang berdusta.” Al-Aziz kemudian mengamati baju gamis tersebut dan ia mendapatkan kenyataan bahwa baju tersebut koyak di bagian belakangnya. Mengertilah ia akan kejadian yang sebenamya, dan berkata: “Engkaulah yang menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya kepadamu, lalu engkau menuduhnya dengan tuduhan yang batil.” Setelah itu, ia berkata kepada Yusuf, “Jangan engkau ceritakan aib ini kepada seorang pun,” serta memerintahkan istrinya untuk beristighfar.
Para wanita di kota ramai membicarakan kejadian tersebut. Hingga pembicaraan mereka itu sampai ke telinga Zulaikha. Zulaikha pun mengundang mereka dan menyediakan buah-buahan serta memberikan pisau kepada setiap dari mereka. Setelah itu, ia menyuruh Yusuf untuk keluar kepada mereka. Maka para wanita itu pun menyaksikan ketampanan Yusuf dan tanpa terasa mereka melukai tangan mereka masing-masing. Lalu Zulaikha berkata, “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya.” Kemudian, ia memuji kesucian Yusuf yang sempurna.
Yusuf telah dianugerahi setengah ketampanan Adam ‘alaihissalam. Zulaikha mengakui bahwa dirinyalah yang memulai menggoda Yusuf, ia juga membebaskan Yusuf dari tuduhan yang tidak senonoh, serta ia bertekad untuk mewujudkan keinginannya. Dan jika Yusuf menolaknya kali ini, niscaya ia akan memerintahkan untuk memenjarakannya. Para wanita yang hadir mendesak Yusuf agar mendengarkan dan mentaati tuannya, lalu mereka bersama-sama bersekutu dengan Zulaikha dengan mengajak Yusuf kepada diri-diri mereka. Namun, Yusuf menolak keras keinginan mereka tersebut dan berdoa kepada Allah. Yusuf berkata di dalam doanya, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakati mereka kepadaku.” (QS. Yusuf: 33).
Kemudian Yusuf pun di penjara dalam rangka menyelamatkan dan melindungi dirinya dari ajakan dan bujuk rayu istri al-’Aziz.
Di dalam penjara ada dua pemuda yang menceritakan mimpinya kepada Yusuf. Lalu Yusuf mena’birkan mimpi kedua orang tersebut dengan berkata “Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum kepada tuannya dengan khamar, adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lali burung memakan sebagian dari kepalanya.” (QS. Yusuf: 41) Dan ia berkata kepada calon pemberi minum (sang raja), “Terangkanlah kondisiku kepada sang raja dan keberadaan ku di penjara bukan karena suatu kesalahan dan itu terjadi setelah bebasnya aku dari tuduhan tersebut.” Namun si pemberi minum tersebut lupa dengan pesan Yusuf.
Pada suatu malam, Raja  Mesir –ar-Rayyan bin al-Walid– terbangun dari tidurnya dalam kondisi ketakutan, ia berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk di makan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan aku melihat tujuh bulir gandum yang hijau diselubungi oleh tujuh bulir gandum yang kering, ta’birkanlah mimpiku ini!” Namun semua ahli nujum, ahli sihir, dan para Dajjal yang ada di sekitar Fir’aun tidak sanggup mena’birkan mimpi tersebut. Saat itulah si pemberi minum raja teringat dengan pesan Yusuf, ia berkata, “Utuslah aku menemui Yusuf.”
Kemudian ia menemui Yusuf dan berkata, “Wahai Yusuf ta’birkanlah kepada kami mimpi sang raja.” Lalu ia menceritakan ulang semua pembicaraan sang raja. Yusuf berkata, “Tujuh tahun penuh dengan kebaikan, lalu diikuti tujuh tahun masa paceklik. Setelahnya lagi akan datang tahun penuh kebaikan.”
Sang raja lalu meminta kesediaan Yusuf dijadikan sebagai salah satu pejabatnya setelah jelas olehnya bahwa ia terbebas dari tuduhan. Namun Yusuf ‘alaihissalam menolak, kecuali jika sang raja mau mengumumkan terbebasnya ia dari tuduhan istri al-’Aziz dan beberapa wanita lainnya. Peninjauan pun dilakukan dan jelaslah sudah keterbebasan Yusuf dari tuduhan tersebut. Setelah itu, sang raja menyerahkan kedudukan yang mulia kepadanya.
Setelah dua tahun masa paceklik berjalan, saudara-saudara Yusuf datang (untuk meminta bahan makanan). Yusuf mengenali mereka, namun mereka tidak mengenali Yusuf. Yusuf pun membekali mereka dengan bahan makanan. Semua saudaranya hadir saat itukecuali saudara kandungnya, Bunyamin ia tinggal di rumah bersama ayahnya. Yusuf berkata, “Jika tahun depan kalian datang lagi, maka bawalah saudaramu itu. Jika kalian tidak membawanya, maka kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dariku.” Lalu Yusuf mengembalikan barang bawaan mereka, (yaitu barang bawaan yang hendak mereka tukar dengan bahan makanan, -pentj).
Saudara-saudara Yusuf pun kembali kepada bapak mereka (Ya’qub), dan mereka mendapatkan barang bawaan mereka dikembalikan. Mereka lalu berkata kepada bapak mereka, “Setelah tahun ini kita tidak akan diberi bahan makanan jika bapak tidak mengirim saudara kami bersama kami.”
Yaqub ‘alaihissalam amat mencintai anaknya, Bunyamin. Sebab ia senantiasa mencium bau Yusuf pada diri anaknya itu. Kemudian anak-anak Ya’qub menguatkan janji mereka bahwa mereka pasti akan mengembalikan saudara mereka kepadanya.
Saudara-saudara Yusuf kembali datang dengan membawa saudara mereka Bunyamin. Lalu Yusuf memasukkan Bunyamin ke tempatnya dan menjelaskan bahwa dirinya adalah saudara kandungnya. Kemudian Yusuf mempersiapkan bahan makanan untuk saudarasaudaranya dan meletakkan takaran makanan di karung Bunyamin. Seorang penyeru lalu berteriak, “Takaran milik raja telah dicuri.” Yusuf berjanji bagi yang menemukannya, maka ia akan memperoleh bahan makanan seberat unta. saudara-saudara Yusuf terkejut dengan berita ini. Kemudian takaran raja dikeluarkan dari barang bawaan Bunyamin setelah dilakukan pemeriksaan pada barang bawaannya. Maka, Yusuf pun menahannya di sisinya dan aturan/hukuman ini sesuai dengan syariat Ya’qub.
Saudara-saudara Yusuf lantas kembali kepada bapak mereka dan mengabarkan kejadian itu. Ya’qub pun merasa susah dan berduka cita atas Yusuf serta kedua matanya menjadi putih lantaran banyak menangis. Kemudian, saudara-saudara Yusuf kembali kepada Yusuf untuk mendapatkan bahan makanan dan meminta agar saudara mereka Bunyamin dikembalikan kepada mereka. Yusuf lalu menyingkap keningnya yang mulia, mereka pun mengenalinya, mereka sangat gembira karenanya. Mereka kembali kepada bapak mereka, dan mereka kembali bersatu.
Dari Al-Hasan: “Yusuf dicampakkan ke dasar sumur saat ia berusia tujuh belas tahun, dan menghilang dari sisi bapaknya selama delapan puluh tahun, dan hidup setelah itu dua puluh tiga tahun. Yusuf wafat saat berusia seratus dua puluh tahun.”
Foot Note:
[1] HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya (5454).
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Kisah Nabiyullah Ayyub 'Alaihis Salam

Ayyub ‘alaihis salam berasal dari anak keturunan Al-’Aish bin Ishaq. Ada yang mengatakan bahwa nama istrinya adalah Rahmah binti Afratsim bin Yusuf bin Ya’qub. Dan inilah pendapat yang masyhur.
Dahulunya Ayyub adalah seorang laki-laki yang memiliki banyak harta berupa tanah yang luas di daerah Hauran. Kemudian, harta dan keluarganya itu diambil darinya dan dia diuji pada badannya dengan beragam cobaan (penyakit). Namun Ayyub bersabar menghadapi semua cobaan itu sehingga ada perumpamaan yang dibuat berkenaan dengan kesabarannya.
Adapun istrinya, ia pernah bekerja kepada orang lain dengan imbalan upah, dan memberi makan Ayyub ‘alaihissalam dengan upah tersebut. Namun, kemudian orang-orang tidak mau lagi mempekerjakannya, setelah mereka tahu bahwa ia adalah istri Ayyub. Mereka khawatir terkena bala’ yang menimpanya. Ketika ia tidak lagi mendapatkan orang yang mau mempekerjakannya, maka ia menjual salah satu kepang rambutnya kepada salah seorang anak perempuan terpandang untuk membeli makanan yang baik lagi banyak. Ia lalu membawanya kepada Ayyub, Ayyub lantas bertanya, “Dari mana engkau dapatkan makanan-makanan ini?” Ayyub mengingkarinya. Sang istri berkata, “Aku bekerja pada orang-orang.”
Keesokan harinya, sang istri tidak mendapatkan orang yang mau mempekerjakannya. Lalu ia menjual kepang rambutnya yang lain untuk membeli makanan dan memberikannya ke Ayyub. Lagi-lagi Ayyub mengingkarinya. Bahkan ia bersumpah tidak akan menyantapnya sebelum ia memberitahukannya dari mana asal makanan-makanan tersebut. Sang istri pun membuka tutup kepalanya. Tatkala Ayyub melihat kepada istrinya dalam kondisi gundul, ia berkata di dalam doanya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS.Al-Anbiya: 83).
Dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub menjalani ujiannya selama delapan belas tahun.”
Kemudian Allah mewasiatkan kepada Ayyub, “Hantamkanlah kakimu;, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shad: 42) Ayyub lalu menemui istrinya dalam kondisi Allah telah menghilangkan semua cobaan yang menimpanya. Saat itu kondisinya lebih tampan dari sebelummya. Ketika istrinya melihatnya, ia berkata, “Semoga Allah memberkatimu! Apakah engkau melihat Nabiyullah yang sedang menjalani ujian itu? Demi Allah atas hal itu atas ujian tersebut, aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih mirip dari Ayyub ketika sehat selain dirimu.” Ayyub berkata, “Akulah orangnya.”
Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah telah mengembalikan harta, anak, seperti semula dan ditambahkan kepada mereka sebanyak itu pula.”
Dan juga dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “Allah telah mengembalikan kepada istri Ayyub masa mudanya, bahkan Allah menambahkannya. Allah juga memberikan keringanan kepada Ayyub setelah ia bersumpah untuk memukul istrinya sebanyak seratus kali cambukan karena ia telah menjual kepangan-kepangan rambutnya. Dengan mengumpulkan seratus batang seperti janjang kurma yang terdiri dari seratus cabang, lalu ia menggabungkannya menjadi satu dan memukulkannya ke istrinya sebanyak satu kali pukulan, maka ia telah menunaikan nadzarnya dan tidak membatalkannya.” Banyak dari kalangan fuqaha’ yang menggunakan rukhshah (kelonggaran) seperti ini dalam perkara sumpah dan nadzar.
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Kisah Nabiyullah Yunus ‘Alaihis Salam

Allah mengutus Yunus ‘alaihissalam kepada penduduk Nainawa, di bumi al-Mushil. Yunus menyeru mereka agar beribadah hanya kepada Allah namun mereka mendustakannya. Ketika pendustaan mereka itu berlangsung lama, Yunus pun pergi meninggalkan mereka serta memberikan janji kepada mereka akan datangnya adzab setelah tiga hari kemudian. Manakala Yunus keluar meninggalkan mereka dan mereka yakin bahwa adzab benar-benar akan turun kepada mereka, Allah memberi mereka taufiq untuk bertaubat dan kembali kepadaNya. Mereka menyesal atas sikap mereka selama ini kepada Nabi mereka. Mereka pun mengenakan pakaian dari tenunan. kasar (pakaian ibadah), memohon dengan harap kepada Allah serta menundukkan diri di hadapan-Nya. Mereka semua menangis, baik dari kalangan laki-laki maupun wanita, anak laki-laki atau pun anak perempuan serta para ibu. Binatang ternak, unta dan anaknya, sapi dan anaknya, kambing dan anaknya pun ikut bersuara. Saat itu kondisinya amat memilukan.
Dengan daya, kekuatan, kasih sayang, dan rahmat-Nya, Allah menahan adzab dari mereka (yang semestinya menimpa). Mereka pada waktu itu berjumlah seratus ribu orang. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai kelebihan dari seratus ribu orang tersebut. Selain itu, mereka juga berbeda pendapat apakah Yunus diutus kepada mereka sebelum ia berada di perut ikan hiu ataukah sesudahnya? Maksudnya, setelah Yunus ‘alaihissalam pergi dalam keadaan marah karena perbuatan kaumnya, maka ia pun menaiki kapal. Kapal pun terombang-ambing dan merasakan beban yang berat, sehingga kapal hampir karam. Para penumpang lantas bermusyawarah untuk diadakan undian. Bagi siapa saja yang keluar undiannya, maka mereka akan melemparkannya dari kapal sehingga beban kapal berkurang. Ketika undian dilakukan, maka undian tersebut jatuh kepada Nabiyullah, Yunus. Namun mereka tidak mengizinkan bila Yanus diceburkan ke laut. Mereka pun mengulangi undian, namun kembali nama Yunus yang keluar.
Yunus pun bersiap-siap melepas pakaiannya dan bersiap-siap menceburkan dirinya ke laut. Namun, mereka menolak perbuatannya itu. Kemudian mereka mengulangi undian. Lagi-lagi undian jatuh kepada Yunus, lantaran Allah menghendaki suatu hal yang besar darinya. Setelah itu, Yunus pun di lempar ke laut. Lalu Allah mengutus ikan hiu besar dan menelannya. Allah memerintahkan kepada ikan tersebut untuk tidak memakan dagingnya dan meremukkan tulangnya, Yunus bukanlah rezeki baginya. Lalu ikan tersebut membawa Yunus berkeliling di lautan.
Setelah Yunus berada di perut ikan hiu tersebut, ia menyangka bahwa dirinya telah mati. Maka ia mencoba menggerak-gerakkan anggota badannya, dan anggota-anggota badannya pun bergerak. Ternyata ia mendapatkan dirinya masih hidup, maka ia segera bersujud kepada Allah dan berkata, “Wahai Tuhanku, aku jadikan satu masjid (tempat sujud) untuk-Mu, yang tidak ado seorang pun menyembahmu di tempat yang serupa.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nama Allah yang apabila diseru dengan nama itu, maka dikabulkan dan apabila dimintai dengan nama itu, maka akan diberi. Itu adalah doanya Yunus bin Mata.”
Maka Allah memerintahkan kepada ikan tersebut untuk melempar Yunus di tanah tandus, lalu Allah menumbuhkan pohon yaqthinah (sejenis labu) untuknya. Di samping itu, Allah juga menyediakan untuknya domba liar sehingga Yunus dapat memerah susunya. Doa yang senantiasa diucapkan Yunus saat berada di perut ikan adalah “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” (Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang lalim).” Tidak ada seorang muslim pun yang menyeru kepada Allah dengan doa tersebut, kecuali ia pasti dikabulkan.’ [HR.Tirmidzi 3505]
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah.

Peristiwa yang Terjadi Pada Tahun 3 Hijriyah

1. Peperangan dengan Yahudi Bani Qainuqa’
- Bani Qainuqa’ adalah orang-orang Yahudi yang pertama kali membatalkan kesepakatan damai dengan Rasulullah dan berperang melawan beliau setelah Perang Badar sebelum Perang Uhud.
- Sebab terjadinya perang ini ketika seorang wanita Arab dilecehkan oleh seorang tukang emas dan perak sehingga tersingkaplah auratnya. Kemudian salah seorang dari kaum muslimin membunuhnya. Melihat hal itu, orang-orang Yahudi balas membunuhnya. Sejak itu hubungan antara kaum muslimin dan Bani Qainuqa’ memburuk.
- Kemudian Rasulullah mengepung mereka hingga mereka tunduk pada keputusan beliau.
perang03
2. Terbunuhnya Ka’ab bin al Asyraf al Yahudi, orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya
3. Perang Uhud
- Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah) terbunuh oleh seorang budak bernama Wahsyi (akhirnya Wahsyi masuk Islam setelah penaklukan kota Mekkah, dan pada perang Yamamah berhasil membunuh nabi palsu Musailamah al Khazzab )
- Sekitar 70 orang dari kalangan kaum muslimin mati syahid.
- Pemimpin pasukan berkuda dari kalangan musyrikin Quraisy adalah Khalid bin Walid (waktu itu belum masuk Islam)
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir & Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir

Sosial Shere

>

Entri Populer

Flag Counter