Peristiwa yang Terjadi Pada Tahun 4 Hijriyah

1. Peristiwa Ar Raji’
Setelah perang Uhud selesai,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan untuk mengintai gerak-gerik musyrikin Quraisy dan mengangkat Ashim bin Tsabit sebagai pemimpinya. Merekapun berangkat hingga tiba di antara ‘Usfan dan Makkah. Ternyata berita ini dibocorkan (kaum ‘Adhal dan Al-Qarah) kepada Bani Lihyan, yang lantas membuntuti dan menyerang mereka.
Tujuh orang terbunuh dan tersisa 3 orang yaitu: Khubaib, Zaid, serta seorang lagi. Setelah orang yang satu ini melihat adanya pengkhianatan dari pihak lawan maka dia menolak ikut mereka. Akhirnya pasukan itu menyeretnya namun dia tetap menolak. Maka merekapun membunuhnya.
Adapun Khubaib, ia dibunuh di Mekkah, seraya berkata:
“Aku tidak pernah peduli ketika aku terbunuh sebagai muslim
Di bagian manapun tubuhku jatuh terbunuh karena Allah
Itu untuk membela Dzat Allah2, dan kalau Dia kehendaki
Tentu Dia berkahi salah satu anggota tubuhku yang terputus.”
Adapun Zaid, Abu Sufyan (sebelum beliau masuk Islam) berkata kepadanya:”Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah wahai Zaid, apakah engkau suka kalau Muhammad sekarang berada di sini menggantikan posisimu untuk dibunuh, dan engkau bersama keluargamu?”
Maka Zaid radhiyallahu ‘anhu bekata:”Demi Allah, aku tidak suka kalau Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sekarang berada pada tempat beliau yang di sana beliau tertusuk duri sedangkan aku duduk bersama keluargaku.”
Abu Sufyan berkata: ”Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang melebihi kecintaan Sahabat Muhammad terhadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Nisthas membunuhnya.
2. Ekspedisi Bi’ru (Sumur Ma’unah)
Rasulullah mengutus 70 shahabatnya yang dikenal dengan nama al Qurra’. Kemudian mereka di hadang di sebuah sumur yang dikenal dengan sumur Ma’unah oleh dua kabilah dari Bani Sulaim yaitu Suku Ri’l dan Dzakwan. Lalu mereka membunuh semua utusan tersebut. Atas peristiwa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan doa (qunut) di waktu subuh selama sebulan penuh.
3. Perang Bani Nadhir
Perang ini terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal 4H bertepatan pada bulan Agustus 625M. Bani Nadhir adalah orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah dan berencana untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Tetapi Allah ta’ala melalui malaikat-Nya Jibril memberitahukan rencana busuk mereka. Mereka juga membatalkan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya, Rasulullah memerintahkan untuk menyerang mereka.
Setelah melakukan pengepungan benteng selama beberapa hari, mereka pun menyerah dan meletakkan senjata serta di usir dari kota Madinah.
4. Perang Najd
Perang terhadap orang-orang arab badui yang selalu mengganggu kaum muslimin. Perang ini juga dinamakan dengan peperangan Dzatur Riqa’.
5. Perang Badar Kedua / Perang Badar Shughra
Ciutnya nyali kaum musyrikin Quraisy karena ketakutan. Akhirnya mereka kembali ke Makkah dan tidak jadi berperang.
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir & Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Sirah Nabi – Syaikh Syafiyyurrahman Al Mubarakfuri
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir & Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir

Peristiwa yang Terjadi Pada Tahun 5 Hijriyah

1. Terjadinya Perang Ahzab Atau Perang Khandaq Atau Perang Parit
Peristiwa ini terjadi pada bulan Syawal tahun kelima hijriyah, menurut pendapat yang paling tepat. Karena sebagian ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya peristiwa besar ini. Ibnu Hazm berpendapat bahwa kejadian ini terjadi pada tahun keempat hijriyah. Sedangkan ulama lainnya seperti Ibnul Qayyim merajihkan bahwa peristiwa ini terjadi tahun kelima hijriyah. (Zadul Ma’ad, 3/269-270)
Pertempuran ini dinamai Pertempuran Khandaq (Arab الخندق) karena parit yang digali oleh umat Islam dalam persiapan untuk pertempuran.
2. Terjadi Perang Bani Quraizhah
Perang terhadap orang-orang Yahudi. Peristiwa ini terjadi pada Dzul Qa’dah 5 H.
3. Terbunuhnya Khalid bin Sufyan bin Nubaih al Huzali, orang yang pernah menghimpun banyak orang untuk memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia dibunuh oleh Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu
4.Terbunuhnya Sallam bin Abi al Huqaiq
Dia adalah orang yang terlibat dalam pembentukan pasukan sekutu untuk memerangi Rasulullah. Dia adalah penjahat Yahudi untuk memerangi kaum muslimin. Dia dibunuh oleh 5 orang dari suku al Khazraj di bawah pimpinan Abdullah bin ‘Utaik.
Setelah pembunuhan itu, mereka berlima menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. eliau bersabda, “Wajah-wajah yang beruntung.” Mereka berkata, “Wajahmu yang lebih beruntung wahai Rasulullah.”
5. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan ketika ia berada di negeri Habasyah. Yang menikahkan adalah An Najasyi dengan mahar empat ribu dirham. Yang bertindak sebagai wali Ramlah saat ia menikah adalah anak pamannya yang bernama Khalid bin Sa’id al Ash.
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir & Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Sirah Nabi – Syaikh Syafiyyurrahman Al Mubarakfuri

Peristiwa Penting yang Terjadi Pada Tahun 6 Hijriyah

1. Peperangan melawan Bani Mushthaliq
Peperangan ini terjadi pada bulan Sya’ban 6H
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Juwairiyyah binti al Harits radhiyallahu ‘anha (tawanan pada perang Bani Mushthaliq dan Rasulullah menebusnya dari Tsabit bin Qais lalu menikahinya). Karena pernikahan ini, orang-orang muslim membebaskan seratus orang dari keluarga Bani Mushthaliq yang telah masuk islam. Orang-orang Muslim berkata, “Mereka adalah besan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
3. Haditsull Ifki (Berita Dusta)
Ini adalah peristiwa tentang fitnah yang buruk dan keji terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha yang dikenal dengan “haditsul ifki” (berita dusta), dimana beliau difitnah telah melakukan perbuatan keji, padahal tuduhan tersebut sangat jauh dari beliau bahkan melebihi jauhnya antara langit dan bumi.
Yang berperan besar dalam menyebarkan berita bohong ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul serta beberapa orang dari Al Khazraj ditambah dengan apa yang diucapkan oleh oleh Mishthah dan Hamnah binti Jahsyi.
Pada peristiwa ini, Allah ta’ala telah menurunkan wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bebasnya beliau dari tuduhan keji tersebut yang mana ayat-ayat tersebut senantiasa kita baca dan bernilai ibadah dengan membacanya hingga hari kiamat. (silahkan lihat QS.An Nur 11-26)
4. Perjanjian Hudaibiyyah
Perjanjian Hudaibiyyah adalah sebuah perjanjian yang di adakan di sebuah tempat di antara Madinah dan Mekkah.
Pada tahun ini, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tapi kaum Quraisy menyiagakan pasukannya untuk menahan Muslim agar tidak masuk ke Mekkah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa beliau datang tidak untuk berperang. Tujuan kedatangan beliau hanya untuk mengunjungi baitullah dan mengagungkannya.Dan Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk menemui oemuka Quraisy guna mengabarkan hal tersebut.
Singkatnya, terjadilah perjanjian damai antara kaum muslimin dan kaum Quraisy dan dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyyah.
5. Bai’atur Ridwan
Ketika Utsman bin Affan diutus Rasulullah menemui pemuka kaum Quraisy, tersiar kabar bahwa Utsman telah di bunuh. Beliau bersabda, “Kita tidak akan tinggal diam hingga kita berhasil menghancurkan kaum Quraisy.” Kemudian Rasulullah mengajak berbaiat, dan terjadilah Bai’tur Ridwan di bawah pohon.
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir & Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Sirah Nabi – Syaikh Syafiyyurrahman Al Mubarakfuri

Peristiwa Penting yang Terjadi Pada Tahun 7 Hijriyah

1. Terjadi Perang Khaibar
Khaibar adalah daerah yang ditempati oleh kaum Yahudi setelah diusir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Madinah tatkala mereka melanggar perjanjian damai. Khaibar adalah benteng pertahanan kaum Yahudi yang merupakan wilayah pertanian dengan delapan atau lima benteng yang melindungi. Jaraknya kira-kira seratus mil arah barat laut Madinah.
Pertempuran ini terjadi pada bulan Muharram 7H
2. Pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Shafiyyah bin Huyay Akhthab radhiyallahu ‘anha. Salah seorang tawanan pada perang Khaibar.
3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di racun oleh seorang wanita Yahudi bernama Zainab bin al Harits. Dia menghadiahkan daging beracun kepada beliau. Dan Bisyr bin al Bara’ bin Ma’rur radhiallahu ‘anhu, yang ikut makan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal dunia karena racun tersebut.
Ini merupakan mukjizat Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam selamat dari racun yang mematikan atas pemberitahuan Allah Ta’ala kepada beliau bahwa daging tersebut beracun, juga laporan dari organ kambing itu kepada beliau.
4. Masuk Islamnya 2 panglima perang dalam sejarah Islam yaitu Khalid bin Walid dan Amr bin al Ash radhiyallahu ‘anhum.
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir & Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Sirah Nabi – Syaikh Syafiyyurrahman Al Mubarakfuri

Peristiwa Penting yang Terjadi Pada Tahun 8 Hijriyah.

1. Terjadinya Perang Mu’tah
Inilah peperangan kaum muslimin yang pertama melawan bangsa adidaya dimasa itu, bangsa Romawi. Terjadi pada tahun 8 H. Sebagian ahli sejarah mengungkapkan bahwa faktor pemicu laga antara kaum muslimin dan kaum kuffar ini telah terjadinya pembunuhan atas utusan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang bernama al-Harits bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu oleh Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani, salah satu gubernur dibawah bangsa Romawi di Syam.
Peristiwa ini terjadi di daerah Mu`tah dekat Balqa` wilayah Syam (sekarang Yordan). Ketika itu pasukan Islam berjumlah 3000 orang melawan 100.000 pasukan Romawi + 100.000 pasukan Nashrani ‘Arab dari suku Lakhm, Jidzaam, serta Qudlaa’ah (Bahraa’, Biliy, dan Balqiin).
Ya.. 3000 orang melawan 200.000 orang..!
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla  melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak” [al-Bidayah wan Nihayah (4/214)]
Sengitnya pertempuran tersebut bisa di gambarkan dari perkataan Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu:
“Telah patah sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman (HR.Bukhari 4265-4266)
Jumlah Syuhada:
Menurut Imam Ibnu Ishaq -Imam dalam ilmu sejarah Islam-, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 Sahabat saja. Secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam Zaid bin Haritsah al-Kalbi, Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh radhiyallahu ‘anhum.
Sementara dari kalangan kaum anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais al-Khozarjayyan, al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.
Disisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.
2. Fathul Makkah (Penaklukan Kota Makkah)
Peristiwa ini terjadi pada pada bulan Ramadan 8 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambeserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun.
3. Pembesar Quraisy masuk Islam di antaranya adalah Sepupu Nabi Abu Sufyan bin Haris & Abdullah bin Abi Umayyah (dahulu bersama Abu Jahal, menghalangi Abu Thalib mengatakan syahadat)
4. Terjadinya Perang Hunain
Peristiwa ini pun meletus di Hunain, sebuah lembah yang terletak antara Makkah dan Thaif, pada bulan Syawwal tahun ke-8 Hijrah. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan telak bagi kaum Muslimin, yang juga berhasil memperoleh rampasan perang yang banyak. Pertempuran Hunain merupakan salah satu pertempuran yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu surat At-Taubah 25-26
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir, Sirah Nabawiyyah – Syaikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri & Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir

Peristiwa Penting yang Terjadi Pada Tahun 9 Hijriyah.

1. Terjadi Perang Tabuk
Pada musim panas tahun 9 Hijriyah, umat Muslim mendengar kabar bahwa Bizantium dan sekutu Ghassaniyah-nya telah menyiapkan pasukan besar untuk menginvasi Hijaz dengan kekuatan sekitar 40.000 pasukan + gabungan dari kabilah-kabilah arab yang bergabung bersama mereka seperti Kabilah Lakhm, Judzam dan lainnya yang beragama Nasrani.
Kaisar Bizantium Heraclius menganggap bahwa kekuasaan kaum Muslimin di Jazirah Arab berkembang dengan pesat, dan daerah Arab harus segera ditaklukkan sebelum orang-orang Muslim menjadi terlalu kuat dan dapat menimbulkan masalah bagi Bizantium.
Tapi, ketika pasukan Romawi dan sekutunya mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggalang pasukan, muncul ketakutan dan kekhawatiran yang merambat hati mereka, sehingga mereka tidak berani maju menyerang. Mereka berpencar-pencar dibatas wilayah mereka sendiri. Dan akhirnya mereka menarik diri dan tidak jadi berperang. Pasukan Islam pun meninggalkan tabuk dengan membawa kemenangan, tanpa mengalami tekanan sedikitpun.
2. Penghancuran tempat makar kaum munafik yang diatasnamakan masjid (Masjid Dhirar).
3. Sserang wanita Ghamidiyah dirajam setelah dia mengakui telah berbuat zina. Dia dirajam setelah menyapih anak dari hasil perzinaan itu.
4. Raja Najasyi Ashhamah meninggal dunia, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat ghaib.
5. Ummu Kultsum binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, yang membuat beliau sedih. Beliau bersabda kepada Utsman bin Affan, “Andaikan aku masih mempunyai putri yang ketiga, tentu akan kunikahkan ia denganmu.”
6. Pemimpin orang-orang munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul, meninggal setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari Tabuk. Beliau memintakan ampunan baginya dan menshalati jenazahnya, setelah Umar bin Khaththab berusaha menghalangi beliau untuk menshalatinya. Setelah itu turun ayat yang membenarkan sikap Umar bin Khaththab.
Dikutip dari Ensiklopedi Sejarah Islam, Tim Riset Dan Studi Islam Mesir, Sirah Nabawiyyah – Syaikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri & Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir

Kisah Musa al Kalim 'Alahis Salam Part 1

Fir’aun pernah melihat dalam mimpinya seolah-olah ada api yang meluncur dari arah Baitul Maqdis, lalu membakar rumah-rumah kota Mesir dan orang-orang Qibthi, namun tidak membahayakan Bani Israil. Para dukun berkata kepada sang raja, “Anak ini lahir dari kalangan Bani Israil. Ia akan menjadi sebab-sebab kehancuran penduduk Mesir melalui kedua tangannya.”
Maka sang raja pun memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki dan membiarkan bayi perempuan hidup. Kemudian, Fir’aun memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki dalam rentang waktu setahun, dan membiarkan mereka hidup (tidak membunuh bayi laki-laki) dalam rentang waktu setahun. Harun dilahirkan pada tahun pembunuhan bayi laki-laki. Allah pun mengilhamkan ke dalam hati ibnu Musa, “Janganlah kamu khawatir dan jangan bersedih, jika Musa pergi maka Allah akan mengembalikannya kepadamu. Dan Allah akan menjadikannya sebagai seorang Nabi yang diutus.”
Sang ibu pun menghanyutkan Musa di sungai Nil. Ia kemudian di pungut oleh para dayang-dayang di dalam sebuah peti yang tertutup. Ketika istri Fir’aun melihatnya, maka timbul rasa cintanya yang mendalam. Tatkala Fir’aun dating dan melihatnya ia memerintahkan untuk membunuhnya, namun istrinya memintanya dari Fir’aun dan melindunginya dengan beralasan, “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.” (QS.Al-Qashash: 9).
Fir’aun berkata, “Ia penyejuk mata bagimu, sedang bagiku tidak.” Ketika Musa telah berada di rumah Fir’aun, para dayang hendak memberinya makan dengan susuan, namun Musa tidak mau menetek kepada siapa pun dan tidak mau menerima makanan.
Kemudian, mereka (keluarga Fir’aun) membawa Musa beserta beberapa dukun bayi dan wanita ke pasar dengan harapan mereka mendapatkan orang yang cocok menyusuinya. Hal itu terlihat oleh saudari Musa dan ia menunjukkan kepada mereka tentang seorang ibu penyusu. Lantas mereka pun pergi bersama gadis itu menuju rumah keluarga yang dimaksud, lalu Musa diambil oleh ibunya. Ketika sang ibu menyusuinya, Musa langsung menelan tetek sang ibu dan langsung menyusu. Meliha tkejadian ini mereka pun amat bergembira dan istri Fir’aun menetapkan gaji untuk sang ibu serta memberinya beragam nafkah. Musa tumbuh menjadi pemuda dewasa dengan postur tubuh dan perangai sempurna.
Suatu ketika Musa melihat dua orang laki-laki yang saling memukul dan saling berbantahan. Yang satu dari Bani Israil, sedang yang lainnya dari bangsa Qibthi. Orang Israil itu meminta pertolongan kepada Musa, maka Musa mendekati orang Qibthi tersebut lantas meninjunya dengan kepalan tangannya, lalu matilah orang Qibthi itu. Sebenarnya Musa tidak bermaksud membunuhnya, namun ia hanya sekedar ingin memberinya pelajaran. Sejak saat itu, Musa merasa takut terhadap Fir’aun dan bala tentaranya.
Saat kondisinya seperti itu, ia kembali menyaksikan orang Israil yang ditolongnya kemarin bertengkar dengan seorang Qibthi yang lain. Ketika Musa hendak memukul orang Qibthi tersebut, si Israil menyangka bahwa Musa menuju ke arahnya untuk menghukumnya karena kemaren Musa mencela dengan keras dan berkata kepadan ya< “Kamu benar-benar orang yang sesat.” Maka, ia pun segera berkata, “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh manusia.” (QS.al Qashash: 19) Orang Qibthi itu pun pergi dan meminta bantuan Fir’aun untuk menghadapi  Musa.
Kemudian, Musa pergi meninggalkan Mesir berdasarkan nasehat orang yang merasa kasihan kepadanya. Musa keluar dalam kondisi tidak mengetahui arah jalan. Ia berjalan di jalan yang menghantarkannya ke Madyan, kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam. Di Madyan, Musa mendapati sebuah sumur yang orang-orang berkerumun disekitarnya untuk member minum kepada kambing mereka. Ia juga menyaksikan dua orang gadis yang sedang menghalau kambing-kambing mereka berdua agar tidak berbaur dengan kambing-kambing orang lain. Sudah merupakan kebiasaan para pengembala apabila mereka telah selesai member minum ternak mereka, mereka meletakkan batu besar di mulut sumur. Kemudian dua gadis tersebut bergegas menggiring kambing-kambing mereka agar dapat meminum sisa-sisa air bekas minuman kambing-kambing orang lain. Tatkala Musa dating, ia mengangkat batu besar tersebut seorang diri dan meminumkan kambing-kambing dua gadis tersebut. Amirul Mukminin Umar bin Khaththab berkata, “Batu itu tidak dapat diangkat, kecuali oleh sepuluh orang. Musa hanya mengambil satu timba air yang mampu digunakan  untuk minum ternak-ternak kedua gadis tersebut.” Setelah itu Musa kembali ke tempat yang teduh dan berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS.al Qashash:24) Doa itu terdengar oleh kedua gadis tersebut, lalu keduanya memberitahukan kepada bapaknya perihal Musa ‘alaihis salam. Sang bapak pun menyuruh salah satu dari keduanya untuk dating menemui Musa dan mengundangnya kerumah. Gadis yang ditunjuk pun menuju kepadanya dan berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu member minum ternak kami.” (QS.al Qashash : 25) Bapak dua gadis itu berkata kepada Musa, “Engkau telah keluar dari wilayah kekuasaan mereka, sekarang engkau tidak lagi berada dinegerinya.”
Bapa tua itu hendak menikahkan Musa dengan salah satu dari dua putrinya dengan syarat ia harus bekerja kepada nya sebagai penggembala kambing selama delapan atau sepuluh tahun. Ketika waktu yang menjadi kesepakatan tersebut berakhir, Musa pergi bersama keluarganya menuju Mesir dengan membawa kambing-kambingnya pada malam gelap-gulita dan dingin. la melihat api yang menyala­-nyala. Ketika Musa menuju api itu, ia berhenti dengan penuh rasa heran. la diajak bicara oleh Rabbnya yang memerintahkannya agar pergi menuju Fir’aun. Musa meminta dukungan kepada Allah dengan saudaranya, Harun, dan Allah mengabulkan permintaan Musa dan menjadikan Harun sebagai rasul bersamanya.
Lanjut ke => Part 2
Sumber: Mukhtasar Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka as Sunnah

Awal Sebelum Berdirinya Daulah 'Utsmaniyyah


01 KurdistanOrang-orang Utsmani berasal dari keturunan kabilah Turkmenia. Pada permulaan abad ke-7 H bertepatan dengan abad ke-13 M mereka hidup di Kurdistan. Mereka berprofesi sebagai penggembala. Akibat serangan orang-orang Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan ke Iraq dan wilayah-wilayah timur Asia Kecil, maka pada 617 H (1220 M) Sulaiman, kakek dari Utsman, melakukan hijrah bersama kabilahnya dari Kurdistan menuju Anatolia. Mereka lalu berdomisili di kota Akhlath.[1]
Pada 628 H (1230 M) Sulaiman meninggal. Setelah itu, putranya yang pertengahan, Erthugrul, menggantikan posisinya. Dia ternu bergerak hingga mencapai barat laut Anatolia. Ikut bersamanya sekitar seratus keluarga dan lebih dari empat ratus penunggang kuda.[2] Ketika Erthugrul, ayah Utsman melarikan diri bersama keluarganya -berjumlah tidak lebih dari seratus keluarga- dari bencana serangan orang-orang Mongol, tibatiba dari kejauhan dia mendengar hiruk-pikuk suara orang yang bertempur. Erthugrul lalu mendekati tempat suara itu. Dia melihat pertempuran sengit antara kaum muslimin dan orang-orang Kristen Romawi. Kemenangan pun hampir saja diraih oleh pasukan Kristen Romawi. Melihat peristiwaitu, Erthugrul segera maju dengan segenap keberanian dan kegigihan untuk menolong saudara-saudaranya seagama dan seakidah. Keberanian Erthugrul ini menjadi sebab kemenangan kaum muslimin atas orang-orang Kristen.[3]
02 Anatolia
Atas keberanian tersebut, seusai pertempuran komandan pasukan Islam yang bernama Seljuk memberi hadiah kepada Erthugrul dan rombongannya. Dia memberinya sebidang tanah di wilayah barat Anatolia, dekat dengan perbatasan Romawi.[4] Dia juga memberi wewenang kepada Erthugrul untuk memperluas wilayahnya hingga ke wilayah kekuasaan Romawi. Orang-orang Seljuk pun mendapatkan sekutu kuat dalam berjihad melawan Romawi. Maka, terjalinlah persahabatan erat antara negara yang baru tumbuh ini dengan orang-orang Seljuk akibat adanya musuh bernasa dalam akidah dan agama. Persahabatan ini terus berlangsung selama masa hidup Erthugrul, yang wafat pada 699 H (1299 M) .[5] Sepeninggalnya, putranya yang bernama Utsman menggantikan posisinya sebagai pemimpin. Utsman mengikuti kebijakan ayahnya dalam memperluas wilayah kekuasaannya di negeri-negeri Romawi.[6]
Bersambung Insyaallah..
Foot Note:
[1] Akhlath adalah sebuah kota di sebelah Timur Turki yang berdekatan dengan Danau Van di Armenia.
[2]  Lihat Qiyam Ad-Daulah Al-’Utsminiyah, h. 26.
[3]  Lihat Jawanib Mudhi’ah fi Tarikh Al-’Utsmaniyyin, Ziyad Abu Ghanimah, h. 36.
[4] Lihat Al-Futuh Al-Islamiyah lbra Al-’Ushur, Dr. Abdul Aziz Al-Umari, h. 353.
[5] Lihat Tarikh Salathin Ali ‘Utsman, karya AI-Qaramani dengan editor Bassam Al-Jabi, h. 10.
[6] Lihat Tarikh Ad-Daulah Al-Aliyyah, Muhammad Farid, h. 115.
Sumber: Buku ‘Sulthan Muhammad al Fatih’, Dr.Ali Muhammad ash Shalabi, Penerbit Pustaka Arafah

Kisah Musa al Kalim 'Alahis Salam Part 2

Fir’aun sangat sombong sebagai orang yang telah membesarkan Musa, maka Fir’aun mendustakan ayat-ayat yang dibawa oleh Musa dari sisi Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala serta menuduhnya telah bermain sihir. Fir’aun pun menantang Musa, maka Musa berkata kepadanya,
“.. waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hariraya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalan naik “(Qs. Thaahaa 20: 59)
Fir’aun mengumpulkan seluruh ahli sihirnya, para pejabat pemerintahannya. dan seluruh warga negerinya. Musa tampil dengan menasihati dan mengingatkan dengan keras kepada mereka agar tidak membiasakan diri dengan perbuatan sihir. Para ahli sihir bermusyawarah dan sepakat untuk melayani Musa dengan pertarungan. Mereka melemparkan tali dan tongkat, lalu mengelabui mata orang-orang dengan sihir. Musa menjawab tantangan mereka sebagaimana yang difirmankan Allah,
“Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. “(Qs. Asy-Syu’araa: 45)
Seketika itu para ahli sihir mengetahui bahwa yang dibawa Musa bukanlah sihir, maka mereka bersujud dan berkata,
” Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu)Tuhan Musa dan Harun:” (Qs. Asy-Syu’araa’: 47-48)
Para tukang sihir itu beriman, maka Fir’aun pun membunuh mereka dengan menyalib mereka pada pangkal pohon kurma.
Fir’aun pun mulai membuka dialog dengan Musa dan Musa sendiri telah memperlihatkan kepadanya ayat-ayat yang terang, namun Fir’aun mengingkarinya. Orang-orang Bani Israil lalu meminta izin kepada Fir’aun untuk keluar menuju hari raya mereka, dan Fir’aun memberikan izin kepada mereka. Pada malam hari mereka keluar dengan tujuan mencari negeri Syam. Ketika Fir’aun mengetahui perihal kepergian mereka, ia sangat marah kepada mereka. Ia segera mengumpulkan seluruh tentaranya untuk melakukan pengejaran terhadap bani Israil dan membatalkan kepergian mereka. Mereka keluar dari Mesir dengan dipimpin oleh Musa Alaihissalam. Adapun mereka, masuk ke Mesir dipimpin oleh bapak Israil, yakni Ya’qub, lebih dari 400 tahun sebelum itu.
Mereka dikejar Fir’aun sampai pada waktu matahari terbit. Kedua kelompok telah saling melihat, sebagaimana firman-Nya,
“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut­pengikut Musa, Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’ “(Qs. Asy-Syu’araa’: 61)
Rasul yang jujur itu berkata kepada mereka sebagaimana yang difirmankan Allah,
“Musa menjawab, sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Qs. Asy-Syua’raa’: 62)
Musa melihat ombak yang saling menghantam. Ia berkata, “Di sinilah aku diperintahkan.” Ketika itu saudara-saudaranya, yaitu Harun dan Yusa’ bin Nuun, bersama dengannya. Musa memukul laut dengan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dengan kehendak, kekuasaan, anugerah, dan rahmat Allah, laut terbelah menjadi dua. Ketika bani Israil telah berhasil melampaui jalan laut itu, Musa hendak memukul laut dengan tongkatnya agar kembali menjadi seperti sedia kala sehingga Fir’aun dan pasukannya tidak dapat melewatinya.
Akan tetapi perintah Allah wajib dilaksanakan, Dia memerintahkan Musa agar membiarkan laut tetap pada keadaan dan sifatnya semula, ketika ditinggalkan oleh Musa bersama kaumnya. Fir’aun dikejutkan dengan apa yang dilihatnya, dan ia yakin semua itu adalah perbuatan Rabb Yang Maha Agung. Oleh karena itu, ia tahan kudanya dan tidak bergerak maju. Akan tetapi kesombongan telah membawanya kepada kebatilan. Dia dan pasukannya tetap hendak mengejar Musa dan para pengikutnya. Ketika itu dia berkata, “Lihatlah oleh kalian semua, bagaimana laut bisa terbelah untukku agar aku dapat menangkap para budakku yang melarikan diri dari sisiku.”
Dia memaksa diri masuk ke laut —yang terbelah— dan tidak mampu lagi mengendalikan kudanya. Ketika para tentara melihat Fir’aun telah masuk ke laut, mereka turut masuk di belakangnya dengan cepat. Mereka seluruhnya secara padu telah berkumpul di tengah taut. Dalam keadaan seperti itu, Allah Subhanahu wa Ta ‘ala memerintahkan Musa, lewat wahyu yang diberikan kepadanya, agar memukul laut dengan tongkatnya, sehingga laut menjadi satu kembali, sebagaimana semula, dan menghancurkan Fir’aun dan seluruh tentaranya.
Ilustarasi Musa Membelah Laut
Bani Israil menyaksikan, namun sebagian dari mereka meragukan kematian Fir’aun, sehingga mereka berkata, “Fir’aun tidak mati.” Allah Subhanahua wa Ta ‘ala pun memerintahkan laut agar melemparkan jasad Fir’aun yang masih mengenakan baju perangnya, yang mereka ketahui Itu merupakan tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta ‘ala. Kejadian itu pada bulan Asyura. Oleh karena itu, orang-orang muslim berpuasa pada hari itu. Kaum muslim lebih berhak atas Musa Alaihissalam daripada bani Israil. Orang-orang Islam juga berpuasa pada sehari sebelum atau sehari sesudah kejadian itu, agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.
Begitu bani Israil keluar dengan selamat dari laut, kesesatan mereka langsung terlihat nyata menggantikan posisi syukur nikmat. Mereka lewat di dekat kaum paganis yang menyembah berhala. Mereka berkata kepada Musa, sebagaimana yang difirmankan Allah,
“Bani Israil berkata, Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala), sebagaimana mereka mernpunyai beberapa tuhan (berhala).” (Qs. Al A’raaf: 138)
Mulailah Musa menghadapi berbagai kesulitan menghadapi kaumnya. Setelah mereka banyak mengalami kesulitan dan kesesatan, mulailah Musa berdoa kepada Rabbnya agar memisahkan dirinya dengan kaumnya.
Di dalam buku-buku versi Yahudi terdapat berbagai cerita yang tidak masuk akal, yang di dalamnya disebutkan adanya orang-orang tinggi luar biasa. Disebutkan bahwa ‘Auj bin ‘Inag memiliki tinggi badan lebih dari 3000 hasta, dan cerita-cerita lain yang mengada-ada. Mereka tidak memiliki jawaban, melainkan sebagaimana yang difirmankan Allah,
“Oleh karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Qs. Al Maaidah: 24)
Dikatakan bahwa Yusya’ dan Kalib langsung merobek pakaian mereka ketika mendengar jawaban ini. Samiri telah membuatkan mereka patung anak sapi dari emas, dan mereka menyembahnya. Musa kemudian tiba dengan kemarahan yang luar biasa, lalu membakar patung tersebut. Begitulah, hati bani Israil memang mudah sekali menyimpang dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tentang sapi, lbnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Seseorang yang tua-renta di kalangan bani Israil memiliki harta yang sangat banyak. Dia memiliki keponakan-keponakan yang selalu mengharapkan kematiannya untuk mewarisi hartanya. Bahkan salah satu dari mereka hendak membunuhnya. la lakukan kejahatan itu pada malam hari dan dia mengingkari perbuatannya. Mereka lalu berbondong-bondong datang ke rumah Nabi Musa ‘Alaihissalam. Musa kemudian berkata kepada mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah,
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. “(Qs. Al Baciarah 12I: 67)
Mulailah tawar-menawar dilakukan, sebagaimana kebiasaan bani Israil. Namun kali ini tawar-menawar dengan Nabi Musa Alaihissalam. Setelah tiga kali mereka merasa ragu, baru akhimya melakukan penyembelihan sapi. Allah berfirman tentang bani Israil dalam menghadapi perintah Tuhannya,
“Hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (Qs. Al Baqarah: 71)
Mereka memukul (mayit) dengan sebagian dari anggota tubuh sapi yang telah mereka sembelih. Tidal ada maslahatnya untuk mempertanyakan bagian tubuh yang mereka gunakan untuk memukul mayit orang yang terbunuh. Yang jelas mayit itu bangun setelah dipukul dengan bagian dari tubuh sapi, lalu berkata, “Aku dibunuh oleh anak saudaraku.” Kemudian ia kembali mati sebagaimana semula.
Sumber: Ringkasan Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka Azzam & Pustaka as Sunnah.

Mau Informasi lebih lagi, ini dia =>  Serba 10 (sepuluh) yang Menarik, Keren, dan Unik di Dunia.

Kisah Musa & Khidir 'Alaihimas Salam.

Suatu hari Musa menjadi khatib di hadapan bani Israil, lalu ia ditanya, “Siapakah orang yang paling alim?” Musa menjawab, “Saya.”
Kemudian Allah mencela Musa karena dia belum memberikan ilmu kepadanya. Allah lalu mewahyukan kepada Musa, Aku memiliki seorang hamba yang tinggal di pertemuan dua laut. Dia lebih alim danpada kamu.”
Berangkatlah Musa dengan saudaranya, Yusya’ bin Nuun. Ketika keduanya sampai di sebuah batu besar, mereka melihat seseorang yang sedang merapikan pakaiannya. Musa mengucapkan salam kepadanya dengan ucapannya, “Aku datang kepada engkau, dengan harapan engkau sudi mengajariku apa-apa yang telah diajarkan kepada engkau berupa ilmu yang benar.”
Khidir menetapkan syarat kepada Musa agar tidak bertanya tentang apa pun hingga Khidir sendiri yang akan menjelaskannya. Berlalu sebuah bahtera yang mengangkut mereka. Khidir mencopot sebuah papan kapal, namun Musa tidak setuju. Khidir lalu mengingatkan Musa akan janjinya, Musa pun meminta maaf. Keduanya lalu keluar dari bahtera. Khidir melihat seorang anak yang sedang bermain bersama anak-anak sebayanya yang lain, kemudian Khidir membunuhnya. Musa menentang apa yang dilakukan Khidir dengan lebih keras daripada penolakannya pada kejadian yang pertama, maka Khidir mengingatkan Musa akan janjinya. Musa pun terdiam dengan menahan kesedihannya. Musa berjanji bahwa dirinya bersedia —jika bertanya yang ketiga kalinya— mengakhiri kebersamaannya dengan Khidir.
Mereka masuk ke suatu kampung. Mereka meminta makanan kepada penduduk kampung itu, namun mereka menolak. Khidir melihat dinding yang miring, ia pun memperbaikinya. Musa berkata kepadanya, “Tidakkah engkau meminta upah perbaikan dinding?” Khidir menjawab, “Habislah masa kebersamaan.”
Khidir lalu menjelaskan semua kejadian yang mengundang keheranan Musa. Ia mencopot papan sebuah kapal agar tidak dirampas oleh seorang raja yang zhalim. Anak yang ia bunuh adalah seorang anak kafir, sedangkan kedua orang tuanya adalah orang mukmin. Khidir khawatir jika kecintaan keduanya kepada anaknya akan membawa keduanya kepada agama anaknya. Adapun tembok yang miring, di bawahnya terdapat harta karun berupa emas milik dua orang anak yatim. Allah hendak menjaga dan memelihara harta itu hingga keduanya menjadi dewasa.
Di dalam kisah tentang Qarun, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Qarun memberi seorang wanita tuna susila harta dengan imbalan agar mengatakan kepada Musa Alaihissalam, ketika ia di tengah-tengah banyak orang, “Sesungguhnya engkau telah melakukan demikian terhadapku.” Wanita itu pun mengucapkan kata-kata itu kepada Musa, sehingga Musa laksana disambar petir. Ia kemudian melakukan shalat kepada Tuhannya lalu datang menghadapi wanita itu dengan mengambil sumpahnya dan bertanya, “Siapa yang menyuruhmu berbuat seperti itu? Kenapa engkau lakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Qarun yang menyuruhku berbuat itu. Setelah itu wanita tersebut beristighfar dan bertobat kepada Allah. Ketika itu Musa merebahkan diri, bersujud, dan berdoa untuk keburukan Qarun. Dan Qarun pun ditelan bumi beserta rumah dan semua hartanya.
Sebagian bani Israil berkata, “Musa tamak dengan harta Qarun.” Musa lalu berdoa, “Wahai bumi, ambilkan dia dan ambillah hartanya.” Dan bumi pun menelannya, rumahnya dan seluruh hartanya.
Imam al Bukhari berkata di dalam Shahihnya mengenai kisah wafatnya Musa ‘Alaihis Salam, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Malaikat maut diutus kepada Musa ‘Alaihissalam. Ketika dia datang, Musa menamparnya. Lalu malakul maut kembali kepada Rabb-Nya seraya berkata, “Egnaku telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian.’ Allah berfirman kepadanya, ‘Kembalilah kepada Musa dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di punggung sapi jantan, maka bulu sapi yang tertutup oleh tangannya itulah sisa umurnya. Satu bulu satu tahun.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhanku, setelah itu apa?’ Malaikat maut berkata, ‘Maut.’ Musa berkata, ‘Sekarang aku pasrah.’ Maka Musa memohon kepada Allah agar didekatkan kepada tanah suci sejauh lemparan batu. Musa wafat di Padang Tin setelah wafatnya Harun di tempat yang sama dan tidak tersisa seorang pun orang-orang yang menolak untuk masuk kedaerah orang-orang perkasa tersebut.”
Tempat Wafatnya Nabi Musa Alaihissalam, Jerico Jerussalem
Tempat Wafat Musa, Jerico Jerussalem
Nabi Harun ‘Alaihissalam
Nabi Harun 2
Nabi Harun
Sumber: Ringkasan Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Diringkas oleh Syaikh Ahmad Khani, Penerbit Pustaka Azzam & Pustaka as Sunnah.

Kisah Anak Anjing Yang Bersembunyi Di Rumah Rasulullah.

Demi Allah, saya tidak tahu apa yang akan saya katakan terhadap kenyataan yang memilukan ini , di mana kondisi kaum muslimin telah sampai mengekor kepada barat yang kafir?!
Bagaimana bisa terjadi pada seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, kemudian di dalam rumahnya dia memelihara seekor anjing, sementara dia tahu bahwa perbuatan seperti itu telah membuat Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam marah pada suatu hari, bahkan hal itu telah mencegah Malaikat Jibril untuk masuk menemui beliau di rumahnya karena di dalamnya terdapat anjing.
Dari ‘Aisyah rodhiyallaahu ‘anha bahwa ia berkata, “Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam mengambil janji dengan Jibril ‘alayhissalaam agar dia mendatanginya pada suatu saat. Lalu tibalah saat tersebut, namun Jibril belum juga datang menemuinya, sementara di tangannya ada sebatang tongkat lalu beliau melemparkannya dari tangannya seraya mengatakan,
“Allah tidak pernah menyalahi janjiNya begitu pula dengan Rosul-RosulNya.”
Kemudian beliau menoleh, tiba-tiba ada seekor anak anjing di bawah tempat tidurnya, lalu beliau bersabda,
“Wahai ‘Aisyah! sejak kapan anak anjing ini masuk ke tempat ini?”
‘Aisyah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu.”
Lalu beliau memerintahkan kepada seseorang sehingga anak anjing tersebut dikeluarkan. Kemudian datanglah Jibril. Lalu Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam menyapanya,
“Engkau berjanji kepadaku, dan aku duduk menunggumu, namun engkau tidak segera datang.”
Jibril menjawab, “Aku tidak segera datang karena ada anak anjing di rumahmu. Sesungguhnya kami (para Malaikat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar (dari makhluq yang bernyawa)”.”
{HR. Muslim, Kitab Al-Libaas bab Tashwiir Shuurotil Hayawaan… (An-Nawawi XIII/307, no.5478).}
Oleh karena itu, maka setiap muslim yang memasukkan seekor anjing ke dalam rumahnya yang tidak dibutuhkan, hendaklah ia bertaubat kepada Allah tabaaroka wa ta’aalaa dan memahami saat-saat penting dari Rosulullaah ini.
Dan kebiasaan buruk ini tidak menyebar (yaitu memelihara anjing untuk dijadikan hiasan dan menjadi kebanggan) melainkan karena pengaruh taklid buta terhadap budaya barat yang kufur lagi kafir.
Kita mengikuti mereka hingga dalam hal memelihara anjing!! Lantas, apa yang masih tersisa? Hanya kepada Allah lah kita meminta pertolongan. Sesungguhnya umat kita ini sedang tenggelam! Adakah yang mau kembali kepada ajaran-ajaran agama kalian yang benar? Atau lebih memilih hawa nafsu?
Pada dasarnya sikap lancang ini (yaitu memelihara anjing) adalah sikap lancang dan maksiat, dirimu sendiri yang mengharamkan diri untuk berdampingan dengan Malaikat rahmat. Oleh karena itu ambillah petunjuk dengan petunjuk Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam niscaya engkau akan selamat dan bahagia di dunia dan akherat.
Malaikat yang tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar makhluq bernyawa adalah Malaikat yang selalu berkeliling untukm membawa rahmat, kebaikan, keberkahan, dan istighfar.
Adapun Malaikat para pencatat amal, pencabut nyawa, mereka memasuki tiap-tiap rumah dan tidak menjauh dari manusia, karena mereka diperintahkan oleh Allah.
Dikutip dari “Mawaaqif Ghodhiba fiiha Nabiyyu” Khumais As-Sa’id. Edisi terjemah; “Pelajaran Penting Dari Marahnya Nabi”. Hal. 48-53. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.

::: Sang Penakluk: Sulthan Muhammad Al Fatih :::

Sultan Ghazi Muhammad Khan II Al Fatih adalah Sultan ke-7 Dinasti Utsmani dan keturunan keluarga Utsman. Selain gelar Al Fatih beliau juga dijuluki ‘Abi Al Futuh’ dan ‘Abi Al Khairat’. Dan setetlah penaklukan Konstatinopel beliau dijuluki ‘Qaisar’ dan julukan itu disandarkan pula kepada sultan-sultan setelah beliau.

Sultan Al Fatih ini terkenal beliau adalah yang telah menghabisi hingga akhir kekaisaran Bizantium setelah berlangsung lebih dari 11 abad.

Sultan Al Fatih memerintah kurang lebih 30 tahun. Selama itu Sultan Al Fatih telah melakukan penaklukan-penaklukan di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan di Anatolia, menyerang Eropa sampai Belgrade. Salah satu yang menonjol dari system pemerintahannya adalah integrasinya terhadap departemen-departemen Byzantium lama dalam Dinasti Utsmani untuk selanjutnya.

Kelahiran dan Pertumbuhan Sultan Al Fatih

Sultan Muhammad II Al Fatih lahir pada 27 Rajab 835 H / 30 Maret 1432 M di kota Edirne. Modal Daulah Utsmaniyah berikutnya. Ia tumbuh dalam naungan ayahandanya sendiri, Sultan Murad II, Sultan ke-6 Daulah Ustmaniyah. Ayah Sultan Muhammad II Al Fatih memperhatikan putranya dengan menjaga dan mendidiknya, supaya nantinya pantas menjadi pemimpin dan bisa memenuhi tanggung jawabnya. Sultan Muhammad II Al Fatih telah menyelesaikan hafalan Qur’annya, membaca hadits, belajar ilmu fikih, matematika, astronomi dan urusan perang. Disamping itu semua, Sultan Muhammad II Al Fatih juga belajar bahasa Arab, Persia, Latin dan Yunani.

Sultan Muhammad II Al Fatih ditempatkan oleh ayahnya untuk memerintah Magnesia (ketika itu ia masih kecil) untuk melatihnya mengurusi urusan kenegaraan dan pengelolaannya di bawah bimbingan sekelompok pembesar ulama masanya, seperti Syaikh Aq Syamsudin dan al Mula al Kaurani. Merekalah yang membekali terciptanya kepribadian sang pemimpin kecil, membangun arah intelektualitas dan kulturanya dengan pondasi keIslaman yang kokoh.

Perang Syaikh Aq Syamsudin tampak dalam pembentukan kepribadian Muhammad Al Fatih. Ia telah mendoktrin dalam diri Sultan Muhammad II Al Fatih sejak kecil tentang dua hal; Pertama, melipatgankan gerakan berjihad untuk Utsmani. Kedua, selalu memberitahukan kepada Sultan Muhammad II Al Fatih sejak kecil bahwa ia adalah pemimpin yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam kitab musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal yang artinya, “Sungguh nanti Konstatinopel akan ditaklukan. Sebaik-baik pemimpin adalah kepemimpinannya, dan, sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” Oleh karena itu, Sultan Muhammad II Al Fatih berharap hadits Nabi tersebut akan terealisasikan kepadanya. Ia tumbuh sebagai pemuda yang berjiwa tekun, tinggi cita-citanya, bagus perangainya, tajam daya peka dan perasaannya, berbudi luhur, ahli syair, serta berpengetahuan tinggi tentang urusan perang dan politik. Ia sering mengikuti ayahnya bersama-sama dalam peperagan dan pertempurannya.

Memimpin Pemerintahan

Sultan Muhammad II Al Fatih memimpin kerajaan sepeninggal ayahnya pada 5 Muharram 855 H / 7 November 1451 M. Ia memulai mempersiapkan peralataan untuk menaklukan Konstatinopel, agar mimpinya bisa terealisasi. Pada saat yang sama, ia memudahkan kerajaan yang masih baru untuk melakukan penaklukan-penaklukan di daerah Balkan. Sultan Muhammad II Al Fatih menjadikan Negara tersebut bergandengan yang tidak bisa dipisahkan oleh musuh yang hendak menyergapnya dan supaya menjadi tempat kabar gembira kenabian. Sultan Muhammad II Al Fatih menyiapkan siasat dan militer untuk penaklukan tersebut. Termasuk salah satu siasatnya adalah memperbaharui perjanjian dan kesepakatan gencatan senjata dengan semua tetangganya dan orang-orang yang mempunyai hubungan tertentu dengan kesultanan, seperti Serbia dan Ksatria Suci Johana (Khight of St John) dan yang lain. Tujuannya adalah untuk mengisolasi kerajaan Byzantium dimulai dari tetangganya, baik dengan politik maupun pertempuran. Kemudian Sultan Muhammad II Al Fatih mempersiapkan lebih dari seperempat juta pasukan mengelilingi Byzantium dari arah darat dan dilanjutkan pengepungan kota selama 53 hari. Dan selama itu telah diselesaikan pembangunan fasilitas militer yang sangat besar dan mendatangkan pakar militer yang handal termasuk produsen terkenal dari Hungaria ‘Urban’ dan orang yang mampu melakukan serangan balasan yang besar dengan melemparkan bola-bola batu besar yang berapi. Byzantium telah melakukan segala upaya untuk mempertahankan kota. Jumlah yang besar dari pasukan Utsmani dapat dilihat dari proses-proses persiapan penaklukan. Dan, yang menjadi hambatan paling pokok yang berada di depan para pasukan Utsmani adalah rantai besar yang digunakan pasukan Byzantium untuk mengendalikan pintu masuk tanduk emas. Dan tidak mungkin bisa dibuka kecuali melompati rantai ini namun gagal. Kemudian pasukan memindahkan 70 perahu setelah mengaspal dan meratakan tanahnya dalam waktu yang singkat. Setelah selesai, dituangkan minyak di papan kayu dan diletakkan di jalan untuk memudahkan jalannya perahu-perahu diatasnya sepanjang 3 mil dan semua ini selesai dalam semalam dan jauh dari pengintai musuh. Pengepungan kota telah sempurna dari segala sisi.

Hal yang paling menonjol dari yang telah dipersiapkan untuk penaklukan penuh berkah ini adalah menuangkan perlawanan dahsyat yang belum pernah terlihat di Eropa. Kemudian membuat perahu-perahu jalan Dardaniel. Dan disamping Eropa dari arah selat Bosporus dibangun benteng besar yang terkenal dengan sebutan ‘Benteng Rumeli Hishar’ untuk menguasai Bosporus.

Penaklukan Konstatinopel

Setelah selesai mempersiapkan semua sarana yang akan digunakan untuk menaklukan Konstatinopel, Sultan Muhammad II Al Fatih memberangkatkan pasukannya yang mencapai 265 ribu, baik pasukan yang berjalan maupun yang berkuda. Mereka disertai dengan perlawanan yang besar. Mereka menuju Konstatinopel pada pagi hari ketiga bertepatan 20 Jumadil Ula 857H / 29 Mei 1453M. Pasukan Sultan Muhammad II Al Fatih berhasil menyerbu benteng-benteng Konstatinopel. Peristiwa ini sangat langka dalam sejarah, sebab dilakukan hanya dalam satu kali operasi militer. Dari penaklukan tersebut, Sultan Muhammad II Al Fatih mendapat gelar ‘Al Fatih’ dan beliau tidak dikenal kecuali dengan julukan tersebut.

Ketika Sultan Muhammad II Al Fatih masuk ke dalam kota ia langsung loncat dari kudanya dan melakukan sujud syukur kepada Allah ta’ala. Kemudian ia menuju gereja Aya Shofia dan memerintahkan untuk membangun masjid di tempat dimakamkannya sahabat Abi Ayyub Al Anshari orang yang berada dalam jajaran pasukan awal yang pernah menaklukan kota tua. Sultan Muhammad II menetapkan pengambilan Konstatinopel sebagai ibukota dari Daulah Utsmaniyah dan memberinya nama ‘Islam Baul’ dalam bahasa Arab senada dengan Darul Islam, kemudian diubah dan terkenal dengan ‘Istanbul’. Sultan Muhammad II menerapkan kebijakan yang toleran terhadap penduduk kota, memastikan mereka melakukan ibadah secara bebas dan memaafkan orang-orang yang meninggalkan kota dalam masa-masa pengepungan untuk kembali ke rumahnya.

Penyempurnaan Penaklukan

Setelah menyelesaikan penaklukan yang telah direalisasikan Sultan Muhammad II yang saat itu usianya belum melebihi 25 tahun, ia menuju Negara Balkan untuk menyempurnakan penaklukannya. Sultan Muhammad II menaklukan Serbia tahun 863 H /1459 M, Morah di Yunani 865 H / 1460 M, Aflaq dan Baghdan (Rumania) tahun 866 H / 1462 M, Albania sekitar tahun 867-884H / 1463 – 1479 M, Bosnia dan Herzegovina sekitar tahun 867-870 H / 1463-1465M. Ia juga berusaha menaklukan Hongaria tahun 881 H / 1476 M sebagaimana angan-angannya mengarah menuju Asia kecil maka ia menaklukan Trabzon tahun 866 H / 1461 M.

Dan termasuk yang menjadi tujuan-tujuan Sultan Muhammad II adalah ia ingin menjadi Kaisar di Roma, mengumpulkan pecahan baru ke dalam wilayah penaklukannya, dan menjadikan Konstatinopel sebagai benteng Byzantium. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, maka ia harus menaklukan Italia. Karena itu ia harus mempersiapkan yang dijanjikan, mempersiapkan armada besar dan mampu mengambil pasukannya dan jumlah yang besar untuk melakukan perlawanan dari dekat kota ‘Autran’. Pasukan Al Fatih berhasil menguasai benteng kota tersebut pada Jumadal Ula 885H / Juli 1480M.

Sultan Muhammad II berkeinginan untuk mengambil kota tersebut sebagai pondasi yang digunakan tempat melajunya pasukan dari arah utara menuju Roma, namun sebelum itu maut telah menjemputnya pada 4 Rabi’ul Awal 886 H / 3 Mei 1481 M.

Sultan Muhammad II: Sang Negarawan dan Pelindung Peradaban

Medan jihad dan perang yang diperjuangkan oleh Sulthan Muhammad II di tengah-tengah masa pemerintahannya, yang mencapai 30 tahun, masih belum menunjukkan prestasinya, dimana Dinasti Utsmaniyah bisa sampai melakukan peluasan yang sangat besar yang belum pernah dilihat sebelumnya. Namun Sulthan Muhammad II adalah seorang negarawan berkaliber tinggi yang mampu mengelola kerjasama dengan Kara Manley Mohammed Pasha. Sekretarisnya, Laits Zadeh Mohammed Chalabi mengarang buku yang diberi judul dengan nama nya sendiri. Muhammad Al Fatih berhasil meninggalkan prinsip-prinsip dasar politik Daulah Utsmaniyah yang masih berjalan sampai tahun 1255H/1839M.

Sulthan Muhammad II terkenal sebagai seorang pelindung peradaban dan sastra. Ia merupakan penyair yang bagus dan mempunya buku kumpulan syair-syair. Orientalis Jerman J Jacobs, telah menyebarkan syair-syairnya di Berlin pada tahun 1322H/1904M. Sulthan Muhammad II Al Fatih selalu belajar, membaca sastra dan syair, bersama para ulama dan penyair, dan memilih sebagian dari mereka dan menjadikannnya sebagai pejabat kementrian.

Termasuk bukti cinta Sulthan Muhammad II Al Fatih pada syair ia mempercayakan kepada Syehda, seorang penyair untuk mengatur puisi epos yang menggambarkan sejarah Utsmani seperti Syahnameh yang dilantunkan oleh al Firdausi. Sulthan Muhammad II Al Fatih ketika mendengar ada seorang yang ahli dalam satu bidang keilmuan maka ia memanggilnya dan memberinya bantuan dan pertolongan dengan harta atau membawanya ke kerajaan untuk mengambil keuntungan dari keilmuannya sebagaimana pernah dilakukan Sulthan Muhammad II Al Fatih bersama tokoh ahli ilmu astronomi, Ali Qashja al Samarqandi. Setiap tahunnya Sulthan Muhammad II Al Fatih mengirimkan harta yang banyak kepada penyair Hindia, Khawaja Jehan, dan penyair dari Persia, Abdurrahman Jabi.

Sulthan Muhammad II Al Fatih mendatangkan para pelukis dari Italia ke gedung kerajaan untuk menyelesaikan lukisan-lukisan kuno dan melatih sebagian orang kerajaan untuk mendalami bidang melukis.

Dan selain sibuk mengurusi jihad, Sulthan Muhammad II Al Fatih juga sibuk membangun dan merekonstruksi bangunan modern. Pada masa jabatannya, ia melakukan pembangunan lebih dari 300 masjid, diantaranya 192 masjid dan satu universitas di Istanbul di samping itu juga membangun 57 sekolahan dan asrama dan 59 kamar mandi umum.

Termasuk bangunan peninggalan Sulthan Muhammad II Al Fatih yang paling terkenal adalah Masjid Sulthan Muhammad dan Universitas Abu Ayyub Al Anshari.

Sungguh, Sulthan Muhammad II Al Fatih seorang muslim yang teguh dengan hukum-hukum syariat Islam, bertakwa, dan wara’. Itu semua karena keutamaannya yang tumbuh dan pengaruh yang agung yang melekat dari ayahnya. Adapun perilaku militer yang dilakukannya adalah perilaku yang sangat modern, yang belum pernah terlihat di Eropa pada abad pertengahan dan belum pernah dikenal metode ketentraannya sebelumnya.

Kematian Sulthan Muhammad II Al Fatih

Pada bulan Rabi’ul Awal 886H / 1481M, sulthan Muhammad II Al Fatih pergi meninggalkan Konstatinopel diiringi pasukan yang sangat banyak. Sebelum keberangkatannya, Sulthan Muhammad II Al Fatih sudah mengalami sakit-sakitan namun tidak dia hiraukan karena kecintaan dan kerinduannya terhadap jihad. Ia sendiri yang keluar memimpin pasukannya. Termasuk kebiasaannya adalah bersungguh-sungguh dalam laga pertempuran untuk mengobati rasa sakit yang melandanya. Namun untuk kali ini rasa sakitnya luar biasa. Ia mulai jalan tertatih-tatih, sehingga mengharuskannya untuk mencari dokter. Pengobatan dan obat-obatan tidak memberikan kesembuhan. Sultan Muhammad II Al Fatih meninggal di tengah-tengah pasukannya pada hari Kamis, 4 Rabi’ul Awal 886H / 3 Mei 1481M. Ia wafat dalam usia 52 tahun setelah memimpin kurang lebih selama 31 tahun.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui arah yang akan dituju oleh Sultan Muhammad II Al Fatih dengan pasukan-pasukannya. Pendapat orang-orang yang berbeda-beda; apakah Sultan Muhammad II Al Fatih hendak menuju Roudes untuk menaklukan jazirah ini, jazirah yang telah menolak komandan Sultan Muhammad II Al Fatih, Masih Basya atau bersiap untuk menyusul pasukannya yang telah masuk di Italia selatan dan setelah itu ia merangsek sendiri menuju Roma, Italia Utara, Perancis dan Spanyol. Semua itu masih tetap rahasia yang disimpan oleh Sultan Muhammad II Al Fatih di hatinya dan tidak diberitahukan kepada seorang pun.

Termasuk kebiasan Sultan Muhammad II Al Fatuih adalah selalu mempertahankan arah yang ditujunya, sangat menjaga kerahasiaan, dan membuat musuh-musuhnya kalang kabut dan bingung dengan urusan mereka sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan mereka mendapatkan serangan terlebih dahulu, kemudian secepat kilat rahasia ini diikuti dengan kesigapannya merealisasikan apa yang ia rahasiakan. Sultan Muhammad II Al Fatih tidak membiarkan musuhnya untuk lebih dahulu waspada dan bersiap. Beberapa kali salah satu qadhi bertanya kepada Sultan Muhammad II Al Fatih, “Dimana Anda meletakkan pasukan anda?” Sultan Muhammad II menjawab, “Jika rambut jenggot saya ini tahu itu semua, maka pasti saya akan mencabut dan membuangnya ke neraka.”

Termasuk beberapa misi Sultan Muhammad II Al Fatih adalah meneruskan penaklukan-penaklukan Islam dari Italia selatan sampai Italia Utara, kemudian melanjutkan penaklukan tersebut menuju Perancis, Spanyol dan beberapa Negara, bangsa dan umat yang lain.

Diceritakan bahwa Sultan Muhammad II Al Fatih dibunuh dengan cara diracun oleh dokter pribadinya, Ya’qub Basya, yang telah mendapat hasutan dari penduduk Venesia untuk membunuh Sultan Muhammad II Al Fatih. Ya’qub Basya sejak lahir bukanlah Muslim, ia berkebangsaan Italia, mengaku-ngaku mendapat hidayah dan masuk Islam. Ya’qub memulai ujicoba memasukkan racun kepada sang Sultan. Namun, ketika ia mengetahui rencana ekspedisi militer sang sultan, maka ia menambah dosisnya, sampai sang sultan wafat setelah menyelesaikan masa kekuasaannya dalam pertempuran-pertempuran yang berhubungan dengan penaklukan, penguatan kesultanan dan memajukannya dan menyelesaikan tujuan-tujuan baru disela-sela pertempuran.

Sultan Al Fatih telah menaklukan Konstatinopel, seluurh kekuasaan dan daerah Asia kecil, Serbia, Bosnia, Albania dan Morh. Ia telah merealisasikan banyak pencapaian-pencapaian yang diinginkan dalam negeri, yang berjalan menuju kemakmuran, Sultan Al Fatih membuka jalan bagi pemimpin-pemimpn berikutnya untuk focus pada perluasan Negara dan daerah-daerah yang baru.

Kedok Ya’qub Basya terbongkar kemudian, ma ia dijatuhi hukuman mati. Kabar kematian Sultan Muhammad II Al Fatih sampai ke penduduk Venesia setelah 16 hari, dimana kabar itu datang dalam bentuk pesan politik yang ditujukan ke kedutaan Venesia di Konstatinopel dan pesan tersebut berisi kalimat berikut, “Elang besar sungguh telah mati.” Kabar itu menyebar di Venesia kemudian keseluruh daratan Eropa. Gereja-gereja di Eropa gembira dan membunyikan lonceng selama tiga hari atas perintah Paus.

Sultan Muhammad II Al Fatih dimakamkan di pemakaman khusus yang dibangun di salah satu universitas yang berada di Astana. Ia meninggalkan reputasi yang mengesankan di kalangan orang Islam dan Kristen.

Wasiat Sultan Muhammad II Al Fatih Sebelum Wafat

Wasiat Sultan Muhammad II Al Fatih kepada putranya, Bayazid II, ketika menjelang ajalnya, ia mengungkapkan pelajaran yang paling benar tentang caranya dalam menjalani hidup, nilai-nilai dan dasar-dasar yang diyakininya dan yang diharapkan bagi pemimpin-pemimpin setelahnya untuk berjalan di atasnya. Dalam wasiatnya, Sultan Muhammad II Al Fatih berkata, “Sebentar lagi aku mati, namun aku tidak menyesal karena aku meninggalkan sepertimu. Jadilah orang yang adil, baik dan penyayang. Utamakanlah rakyat yang menolongmu tanpa diskriminasi (pilah pilih). Sebarkanlah Islam, karena ini adalah kewajiban bagi semua pemimpin di bumi ini. Dahulukan kepentingan urusan agama di atas segala-galanya dan janganlah kamu tinggalkan untuk terus mengurusnya. Jangan menjadikan pemimpin, orang yang tidak menganggap penting urusan agama, orang yang tidak meninggalkan dosa-dosa besar dan orang-orang yang tenggelam dalam perbuatan keji. Tinggalkan bid’ah yang merusak dan jauhilah orang-orang yang menghasutnya. Luaskanlah petak Negara dengan jihad. Jagalah harta Baitul Maal dari orang-orang yang ingin mengacaukannya. Takutlah kamu untuk tidak mengulurkan tanganmu (mengambil) harta salah satu rakyatmu, kecuali dengan hak Islam! Jaminlah makanan orang yang membutuhkannya. Serahkanlah kemuliaanmu kepada yang berhak.

Ulama adalah tembok kekuatan bagi Negara. Maka agungkanlah peran mereka dan doronglah keberanian mereka. Jika kamu mendengar slah satu diantara ulama itu ada yang tinggal di Negara lain, maka datangkanlah kepadamu dan muliakanlah mereka.

Waspadalah, jangan sampai kami terbuai oleh harta dan kekuatan tentaramu! Takutlah jika kalian dijauhkan oleh para ulama yang ahli dalam hukum syariat! Takutlah jika kamu malah cenderung melakukan sesuatu yang bersebrangan dengan hukum syariat! Karena agama adalah tujuan kita. Hidayah adalah manhaj kita, dan dengan itu semua kita menang.

Ambillah dariku suri taulan ini! Aku datang ke negeri ini bagaikan semut yang kecil, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberiku nikmat yang mulia ini. Maka tetaplah pada jalanku, contohlah aku, lakukan untuk memuliakan agama ini dan mengagungkan pemeluknya, jangan kamu gunakan harta Negara dalam kemewahan, kesenangan atau melebihi kadar kewajaran, karena semua itu adalah sebab yang paling besar menuju jurang kehancuran…”

Sumber: Dikutip dari ‘Para Penakluk Muslim Yang Tak Terlupakan’, Tamir Badar, Pengantar: Dr.Raghib As Sirjani, Penerbit al Kautsar

::: Kisah Kejujuran Seorang Yang Menemukan Barang Bukan Miliknya :::

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi’ bin Muhammad al-Bazar berkata, “Ketika itu aku tinggal di samping kota Makkah- sebuah kota yang semoga selalu dalam penjagaan Allah subhanahu wata’ala-. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.

Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah melihatnya.

Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah bungkusan yang hilang. Dia menjajikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata, ‘Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, maka uang 500 dinar ini akan aku berikan sebagai imbalan kepada penemunya.’

Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil kalung ini dan memanfaatkannya.’ Tapi aku akan mengembalikannya.

Aku berkata pada kakek itu, ‘Marilah kita ke rumah.’ Akupun membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki, jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.

Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Diapun memberikan kepadaku 500 dinar sebagai imbalan. Namun aku menolak, aku berkata, ‘Sudah menjadi kewajibanku untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.’

Sang kakek berkata, ‘Kamu harus menerima uang ini.’ Dia terus menerus memaksaku untuk mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya lalu dia pergi meninggalkan aku.

Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku lalu meninggalkan Makkah dengan menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu tersebut oleng. Orang-orang pun bercerai-berai berikut seluruh hartanya. Namun aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu papan perahu tersebut.

Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca al-Qur’an. Di kampung itu tidak ada seorangpun yang bisa membaca al-Qur’an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta mengajari mereka membaca al-Qur’an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah uang.

Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar al-Qur’an di dalam masjid. Lembaran itu aku pungut. Orang-orangpun bertanya, ‘Apakah kamu bisa menulis?’ Aku jawab, ‘Ya’. Kemudian mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.

Sejak itu aku mengajari mereka, akupun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari masyarakat kampung ini berkata kepadaku, ‘Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya, bagaimana jika kamu menyuntingnya?’ Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.

Setelah diadakan walimah dan isteriku ada di hadapanku, aku mendapati kalung yang dulu pernah kulihat, melingkar di lehernya. Mataku tak berkedip melihat kalung tersebut.

Orang-orang yang melihatku mengajukan protes, ‘Wahai ustadz, engkau telah menghancurkan hati gadis yatim ini, sebab engkau hanya menatap kalungnya bukan wajahnya!.’

Lalu aku ceritakan kisah kalung tersebut, orang-orang pun meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh seluruh penduduk pulau tersebut.

Aku menanyakan kepada mereka, ‘Ada apa?’

Mereka menjawab, ‘Kakek yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Kala itu kakek tersebut berkata, ‘Seumur hidupku, aku tidak pernah bertemu dengan seorang pemuda muslim yang baik seperti dia!’ Sang kakek hanya mampu memanjatkan do’a, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan pemuda itu agar aku dapat menikahkannya dengan anak gadisku.’ Sekarang do’a itu telah dikabulkan Allah.

Selanjutnya, aku tinggal bersama isteriku beberapa tahun, aku dikaruniai dua anak laki-laki. Kemudian isteriku meninggal dunia dia mewariskan kalung tersebut untukku dan untuk kedua anakku. Tanpa aku duga, dua anak laki-lakiku pun meninggal dunia. Maka tinggalah aku sebatang kara dan menjadi pemilik kalung isteriku. Kemudian kalung tersebut aku jual dengan harga 100 ribu dinar. Hartaku yang bisa kalian lihat sekarang ini adalah sisa-sisa harta itu.”

(Dzail Thabaqatul Hanafiah, 1-196)

Dari buku “99 Kisah Orang Shalih” karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab. Penerbit Darul Haq, Jakarta. Cetakan VII, Dzulqa’dah 1432 H / Oktober 2011 M

Sosial Shere

>

Entri Populer

Flag Counter